JQH NU Jabar Gelar Diklat Program Satu Desa Satu Hafidz (Sadesha)

oleh -
JQH Nahdlatul Ulama Provinsi Jawa Barat menggelar diklat kepada hafidz dan hafidzoh yang mengikuti program Gubernur Jawa Barat satu desa satu hafidz (Sadesha) di Hotel Grand Sunshine Resort Soreang Bandung selama tiga hari, 28-30 Juni 2020.

BANDUNG–Pengurus Wilayah Jam’iyyatul Qurra Wal Huffadz (JQH) Nahdlatul Ulama Provinsi Jawa Barat menggelar diklat kepada hafidz dan hafidzoh yang mengikuti program Gubernur Jawa Barat satu desa satu hafidz (Sadesha) di Hotel Grand Sunshine Resort Soreang Bandung selama tiga hari, 28-30 Juni 2020.

Ketua koordinator program Sadesha, Lukman Hakim mengatakan diklat diikuti oleh peserta program sadesha yang sudah mendapatkan SK Gubernur Jawa Barat pada tahun 2019. Diklat selama tiga hari ini baru diikuti oleh peserta dari lima kabupaten dan kota yang dibagi menjadi dua angkatan.

“Angkatan pertama diikuti peserta Sadesha dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi. Sementara angkatan kedua dari Kabupaten Bandung Barat dan Sumedang. Diklat untuk peserta Sadesha dari kabupaten/kota yang lainnya akan segera menyusul,” kata Lukman.

Lukman menjelaskan diklat ini merupakan bentuk apresiasi dan perhatian pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berkolaborasi dengan PW JQH NU kepada hafidz dan hafidzoh yang nantinya akan menjadi delagasi ke tiap-tiap desa yang ada di Provinsi Jawa Barat.

“Program sadesha ini bisa jadi merupakan program yang satu-satunya berada di Indonesia yang di gagas oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,” jelasnya.

Menurut Lukman, kegiatan diklat ini semata-mata mencoba menterjemahkan apa yang sudah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW 15 abad yang lalu tentang siapakan manusia yang terbaik. Rosululloh memberikan kriteria manusia yang terbaik yaitu orang yang belajar Al-Quran dan mengamalkannya, lanjut Lukman.

Lukman menyebutkan dalam diklat ini ada empat materi inti yang akan disampaikan. Pertama meliputi materi tentang wawasan kebangsaan. “Kami ingin dengan materi wawasan kebangsaan ini kita semua semakin menumbuhkan rasa cinta pada bangsa Indonesia. Karena bangsa akan semakin lebih hebat kalau rakyatnya mencintai bangsa sendiri. Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap diperjuangkan kapanpun dan dimanapun,” sebutnya.

Materi yang kedua yaitu wawasan keislaman. Dalam materi ini akan dibahas terkait idiologisasi yang hari ini cukup kuat diperbincangkan. “Nanti dibahasa bagaimana membangun konsep islam dalam membangun rohmatan lil ‘alamin. Islam yang senantiasa membangun cinta kasih. Islam yang selalu merangkul bukan memukul,” imbuhnya.

Materi yang ketiga yaitu metodologi pengajaran tajwid dan tahsin. Dalam materi ini membahas kiat-kiat mengajarkan tajwid dan tahsin yang indah, mudah, dan mengembirakan.

“Materi yang keempat yaitu metode pengajaran menghafal Al-Qur’an. Mentransfer ilmu cara menghafal Al-Quran butuh metode dan cara yang efektif. itulah materi-materi yang akan disampaikan dalam diklat Sadesha,” tutup Lukman. (*/rik)