Warga Relokasi Ciherang Mengeluh Kesulitan Air Bersih

oleh -

SUMEDANG – Pembangunan tempat relokasi warga terdampak bencana longsor Ciherang yang berlokasi di Dusun Pasir Peti, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan, dipastikan sudah mencapai 90 persen.

Sedikitnya 118 rumah telah dibangun untuk 118 kepala keluarga (KK) di lahan milik Perum Perhutani seluas 4,3 hektar itu. Lokasinya pun terbilang berbukit-bukit namun sangat layak dan representatif untuk ditinggali.

Meski begitu, ada beberapa persoalan yang belum tertangani yakni ketersediaan air, listrik dan mata pencaharian warga.

Salah seorang warga terdampak asal Dusun Sukasari Rt. 04/Rw. 03, Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, Dodi Heryana (43) menuturkan, dirinya kini bisa bernafas lega karena dirinya bersama istrinya menjadi salah satu penerima rumah relokasi. Ia pun tampak sedang memperbaiki beberapa interior rumah yang akan ditempatinya itu.

Dirinya mendapatkan rumah dengan ukuran 6×6 itu sejak 22 November 2018 lalu, setelah sebelumnya dua unit rumah Dodi rata oleh tanah akibat ganasnya longsor pada peristiwa tahun 2017 itu. Kini sehari-harinya, Dodi bersama sang istri tinggal di mushola pesantren As-Sholah CiherangĀ  sejak dua tahun lalu.

“Saya pernah tinggal di tempat hunian sementara di daerah Ujung Jaya, tali cuman betah 6 bulan karena jaraknya jauh. Tapi setidaknya dengan rumah ini, nanti saya bisa hidup layak, meskipun besarnya tidak bisa dibandingkan dengan rumah saya yang sudah terkubur oleh tanah di Ciherang,” ujarnya saat ditemui Radar Sumedang di lokasi perumahan, Kamis (31/1).

 

Meski demikian, ketersediaan air bersih di kawasan tersebut terbilang cukup sulit. Terlebih pihak Desa pun belum bisa berbuat banyak untuk memfasilitasi sarana air yang rencananya akan diperoleh dari mata air Blok Cinangka yang jaraknya mencapai 5 kilometer.

“Iya saya untuk keperluan perbaikan rumah kan harus beli air seharga 100 ribu untuk satu toren. Idealnya mah udah ada berikut sama listrik, tapi katanya masih lama. Jadi Informasi yang saya dapat, untuk listrik itu awal Maret, sedangkan ketersediaan air bulan September,” ujarnya.

Bahkan dikatakannya, permasalahan air bersih sampai saat ini belum menunjukan kepastian. Mengingat warga sekitar khawatir kekurangan air, jika air dialirkan ke pemukiman baru.

“Sebetulnya sempat ada musyawarah dengan Desa, desa sudah siap memfasilitasi, tapi warga tidak mengijinkan kalau air dari mata air yang jauh itu dailirkan kesini. Sebab khawatir katanya yang punya sawah, kebun dan rumah tinggal kekurangan air, kan air disini terbilang susah,” katanya.(jim)