KH Mustafa Aqil Siradj : Menyongsong Kebangkitan Kedua NU Ada Syaratnya

oleh -
Rais Syuriah PB NU KH Mustafa Aqil Siradj saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Halaqoh dan Silatnas VIII MA IPNU di Gedung Negara, Minggu (7/7/2019) malam.

SUMEDANG–Saat ini Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia siap menyongsong kebangkitan kedua. Demikian ditegaskan Rais Syuriah PB NU KH Mustafa Agil Siradj dalam sambutannya saat membuka Halaqoh dan Silatnas VIII Majlis Alumni MA Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU), Minggu (7/7/2019) malam di Gedung Negara Sumedang.

KH Mustafa Aqil Siradj mengulas tema besar Halaqoh dan Silatnas VIII MA IPNU tersebut yakni ‘Siap Menyongsong Kebangkitan Kedua NU’.

“Jika saat ini disebut menyongsong kebangkitan kedua NU, lantas kapan kebangkitan pertamanya? Jadi kebangkitan pertama itu di masa para santri, ulama dan kyai bersatu mengusir penjajah Belanda, Sekutu dan Jepang dari negeri ini. Dengan puncaknya ditandai dengan keluarnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945,” terang KH Mustafa di hadapan lebih dari 500 peserta halaqoh dan silatnas.

Adik Ketua PB NU KH Said Aqil Siradj ini juga mengungkapkan bahwa setiap 100 tahun sekali itu akan selalu ada perubahan zaman dan tantangan yang harus dihadapi oleh suatu bangsa.

“Di masa kebangkitan NU pertama musuhnya jelas orang asing yang merupakan para penjajah. Sementara menyongsong kebangkitan NU kedua musuhnya adalah tantangan zaman terhadap akidah terhadap paham aswaja dan tantangan paham radikalisme,” jelasnya.

Untuk menyongsong kebangkitan NU kedua itu, bangsa Indonesia harus lebih mawas diri agar bisa menghadapinya dan mengulang kemenangan di masa kebangkitan pertama.

“Satu-satunya cara untuk dapat menghadapi kebangkitan kedua ini adalah ketaatan nahdliyin kepada para ulama, sepanjang tetap taat kepada ulama maka sepanjang itu pula NU akan berhasil menghadapi berbagai bentuk tantangan yang dihadapinya,” tandasnya.(rik)