Pilpres 2024, NU Harus Miliki Capres Sendiri

oleh -
Para narasumber, pengurus pusat presidium MA IPNU, dan sejumlah tokoh yang merupakan kader terbaik MA IPNU sesaat sebelum Forum Alumni dimulai. Tampak Bupati Sumedang (kanan) selaku tuan rumah dan Sekjen PB NU H.A. Helmy Faishal Zaini (tengah), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (ketiga kiri), Rais Syuriyah PB NU KH Mustafa Aqil Siradj (kedua kiri), Ketua Presidium Pusat MA IPNU H Hilmi Muhammadiyah (kanan keempat) dan Wakil Ketua MUI Pusat H Zainut Tauhid (kanan ketiga)

SUMEDANG–Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) H. A. Helmy Faizal Zaini dalam arahannya saat menghadiri pembukaan Halaqoh dan Silatnas VIII MA IPNU sempat mengutip bait sajak WS Rendra, ‘Kesadaran Adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala, dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata’.

Begitupun dengan wacana menyongsong kebangkitan kedua NU, menurut mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) ini sebenarnya sudah sangat jelas terlihat. “Jika saat ini kita memiliki tokoh NU sebagai Wakil Presiden terpilih, sudah saatnya pada Pilpres 2024 nanti kader NU memiliki capresnya sendiri,” ujar Helmy disambut riuh tepuk tangan peserta halaqoh dan silatnas VIII MA IPNU, Minggu (7/7/2019) malam di Gedung Negara Sumedang.

Sosok yang pernah mencalonkan diri sebagai DPR RI dari Dapil Sumedang Majalengka Subang ini sangat optimis dengan potensi sumber daya manusia (SDM) nahdliyin yang tersebar dimana-mana mampu melewati kebangkitan kedua.

“Patut gembira saat ini banyak tokoh NU berada dimana-mana mengabdikan diri di berbagai bidang. Termasuk mengisi tampuk-tampuk kepemimpinan di negeri ini, dari mulai bupati, gubernur, menteri sampai wakil presiden,” sebutnya.

Perlu disadari pula, lanjut Helmy Faishal Zaini bahwa sekitar 90 persen muslimin Indonesia menjalankan amaliyah NU. “Sementara hasil survey sebanyak 32 persen mengaku secara terang-terangan berafiliasi dengan NU. Maka dengan begitu sebanyak 91,2 juta warga NU di Indonesia menjadi satu-satunya ormas Islam terbesar di dunia,” beber Helmy seraya mengatakan hal itu sangat berpeluang besar dalam membumikan paham Aswaja di Indonesia.(rik)