Tren Motor Lawas di Sumedang Kembali Eksis

oleh -

Sumedang — Berawal dari rasa bosan mengendarai motor-motor konvensional, sekumpulan muda-mudi Sumedang mencoba meramaikan kembali eksistensi motor bebek tua era 1970- 1980-an.

Di Sumedang, mungkin hanya beberapa orang yang memiliki motor 2 tak ini. Sebab motor-motor tua ini biasa kita temui di jalanan seperti di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Namun saat ini tren motor bebek tua atau ‘motor lawas’ justru sedang naik daun. Pasalnya sejumlah orang, terutama para anak muda mulai melirik motor ini sebagai kendaraan sehari-hari, untuk menggantikan motor-motor jenis masa kini yang notabene banyak beredar.

Ide untuk menggaungkan kembali motor lawas ini pun pertama kali dilakukan oleh seorang bernama Mang Ukier yang merupakan salah satu member dari Bikers Brotherhood.

Hingga pada akhirnya dirinya membentuk komunitas motor bernama ‘Utah Lalay’. Komunitas ini merupakan salah satu komunitas motor dibawah asuhan Club Motor paling disegani seperti ‘Bikers Brotherhood’.

“Awalnya itu memang kagum gitu liat motor bebek jadul di Bandung, di daerah Jawa. Mereka kayaknya santai banget bawa motornya, enggak seliweran seperti anak muda pada umumnya. Hingga akhirnya saya iseng beli motor merk Yamaha seri V75 tahun 1970-an yang full orisinil,” kata salah satu member Utah Lalay, Hari Muhammad (20) saat ditemui Radar Sumedang di kediamannya, Jum’at (17/1).

Ia menuturkan, alasannya memilih motor antik itu, lantaran ingin merasakan berkendara pada zaman dahulu, atau sekedar bernostalgia.

Semakin original dan langka, motor pabrikan Jepang ini akan semakin tinggi harga jualnya.

Adapun kata Heru, untuk mendapatkan jenis motor pabrikan Jepang ini tidaklah sulit (kecuali yang betul-betul langka). Pasalnya dirinya telah memiliki koneksi lintas luar kota dengan komunitas serupa. Sehingga untuk mendapatkan sparepart pun, dirinya cukup melakukan komunikasi dengan para komunitas.

“Sebetulnya ngurus motor bebek lawas seperti ini enggak sulit, tergantung perawatan dari si pemiliknya juga sih. Jadi anggapan orang kalau punya motor tua itu mahal ngurusnya, sparepartnya susah, coba masuk komunitas dulu, disana ada caranya,” ucapnya.

Kata Heru, sedikitnya ada 100 unit motor bebek dua tak keluaran tahun 1970-1980 pabrikan Yamaha dengan seri V series, antara lain seperti versi V75, V80, VRobot, dan Super Deluxe. Sementara untuk pabrikan Suzuki dengan keluaran tahun yang sama seperti Suzuki seri FR.

Untuk mendapatkannya, lanjut Heru memang agak sulit, sebab motor seperti ini kebanyakan beredar di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Ia pun sebagai pelaku jual beli motor lawas ini mengaku sangat menikmati.

Sementara untuk pengiriman motor dari Jawa biasanya menggunakan jasa pengiriman via Kereta Api yang dipusatkan di stasiun Kiaracondong, dengan jumlah pengiriman mencapai 10-17 motor per harinya, dan kemudian dikirim lagi via paket ke Sumedang.

“Kalau di Jawa itu kan jalanannya rata, sehingga ketika datang kesini itu kondisinya betul-betul terawat, hanya saja untuk cet mungkin sudah mengelupas termakan waktu. Jadi jangan aneh, kalau di Jawa Barat, pada umumnya memang jarang, karena jalannya kan labil dan terjal serta banyak tanjakan,” ungkapnya.

Ia menceritakan bagaimana rasanya mengendarai motor bebek lawas ini. “Tentunya kita akan merasakan sensasi berkendara yang berbeda, alon, santai, nyaman, jadi perhatian orang karena bentuknya tak biasa. Kemudian dari suaranya juga khas, berasap tapi wangi oli samping,” katanya.

Terakhir, Heru yang sehari-hari berjualan lumpia basah di kawasan pertokoan Jalan Prabu Geusan Ulun ini menambahkan, harga motor 2 tak era 70-80an ini bisa didapatkan dengan harga yang variatif.

“Paling murah itu Rp. 2,5 juta tergantung kelengkapannya. Tapi kalau yang paling mahal itu bisa sampai Rp. 18 juta untuk seri Yamaha VRobot, bahkan ada yang setara harga motor jama sekarang, yakni Rp. 30 juta rupiah,” sebut Heru. (jim)

oleh