Ortu Siswa Mendesak Sekolah Cepat Dibuka, Begini Jawaban Kadisdik

oleh -
Ilustrasi belajar kelompok dirumah / Home Visit guru ke rumah siswa

Sumedang – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Agus Wahidin angkat bicara dengan banyaknya desakan dari para orang tua siswa di Sumedang yang menghendaki agar sekolah kembali dibuka atau kegiatan belajar mengajar (tatap muka).

Menurutnya keputusan pembukaan sekolah bukanlah wewenang Kepala Dinas Pendidikan di Kota/Kabupaten atau bahkan selebihnya setingkat Gugus Tugas Kabupaten pun tidak bisa mengeluarkan kebijakan seperti itu.

“Saya tegaskan ini bukan keputusan Kadis, ini keputusan nasional bahkan keputusan WHO. Bahwa keselamatan kesehatan anak jauh lebih penting,” ucap Agus Wahidin kepada Radar Sumedang, Rabu (22/7).

Kata dia, ada beberapa pertimbangan jika sekolah kembali dibuka. Pertama anak merupakan usia rentan, kedua anak belum punya pengendalian diri seperti orang dewasa dan ketiga sulit mengontrol anak saat bubar sekolah.

Pasalnya keputusan ini merupakan pilihan terbaik hasil pengamatan para ahli se-dunia.

“Kalau ada satu anak yang terinfeksi kemudian besoknya dia masuk lagi kemudian menularkan ke yang lainnya, siapa yang tanggung jawab. Jadi enggak bisa sekarang orang tua ngeluh, capek gara-gara anak tidak sekolah (tatap muka. Red),” ujarnya.

Kendati disebutkan Agus Wahidin, kalaupun suatu daerah sudah dinyatakan zona hijau, tidak sekonyong-konyong sekolah bisa dibuka.

“Kalau tiba-tiba saya memperbolehkan anak sekolah, saya kena pidana. Kota Sukabumi saja yang sudah zona hijau enggak gegabah langsung buka sekolah, karena memang beresiko tinggi,” sebutnya.

Selain itu dirinya juga menepis anggapan miring terkait dengan efektivitas belajar dirumah yang dirasa terlalu membebani siswa. Terlebih Covid masuk ke Indonesia secara spontan tanpa disadari.

“Di awal-awal Covid memang iya terlalu memberatkan, tapi ketika awal-awal Covid siapa yang nyangka, kan enggak tahu. Wajar saja pada saat itu guru terus-terusan memberikan tugas karena enggak tahu harus bersikap gimana. Jangankan para guru, Presiden Amerika juga gelagapan saat ada Covid harus bagaimana, karena darurat dan tiba-tiba,” tukasnya.

Meski demikian seperti diberitakan Radar Sumedang sebelumnya, pasca tiga bulan KBM digelar dirumah masing-masing. Dinas Pendidikan kata dia sudah menyiapkan pedoman umum pembelajaran untuk semester ganjil 2020 – 2021 yang dikemas dalam strategi Komplementer tujuh Metode Pembelajaran.

Oleh sebab itu sambung Kadis, tujuh strategi ini saling melengkapi meski harus dihadapi dalam situasi Covid.

“Dengan kita menyiapkan tujuh strategi pembelajaran seperti ini saja belum tentu efektif, apalagi kalau kita hanya diam, lebih parah lagi. Sehingga ini belum menjadi sebuah ukuran efektif atau tidak, kan tahun ajaran baru satu minggu dari tanggal 13 Juli kemarin. Nanti kalau sudah satu bulan, baru kita lakukan evaluasi,” terangnya.

Disamping itu pula ia meminta agar masyarakat terutama orang tua siswa bisa bersikap bijak dalam membandingkan keadaan.

“Jadi kalau mengukur itu harus ada pembanding, ini di seluruh dunia loh anak sekolah enggak boleh belajar tatap muka. Jadi jangan khawatir, saya yakin dengan tujuh metode pembelajaran ini Sumedang lebih baik. Saya pertaruhkan jabatan saya, tanya ada enggak di sekolah lain yang mempersiapkan metode pembelajaran seperti di Sumedang,” pungkas Agus Wahidin. (jim)