KH Didin Hafidhuddin: Jangan Sempitkan Budaya Pesantren dalam Raperda Pesantren!

oleh -
KH Didin Hafidhuddin saat menyampaikan materi tentang peran ulama dan pesantren dalam ketahanan NKRI dan kebangkitan ekonomi ummat melalui zoom meeting, Sabtu (15/8/2020).

RADARSUMEDANG.ID–Salah seorang tokoh muslim nasional K.H. Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, MSc menyampaikan ada empat poin penting terkait peran ulama dan pesantren dalam ketahanan NKRI dan kebangkitan ekonomi ummat. Pertama menurut Guru Besar Universitas Ibnu Khaldun ini sejak awal pesantren telah menjadi lembaga yang iqomatuddin, lembaga perjuangan menegakkan ajaran Islam dalam berbagai bidang kehidupan.

“Baik melalui kegiatan pendidikan, kegiatan sosial, kegiatan ekonomi, bahkan juga kegiatan politik. Sebab para ulama dengan para santrinya dahulu, disamping sebagai murabbi, sebagai muallim, sebagai ustadz dan dai yang membimbing umat dalam bidang kehidupan keagamaan juga sebagai pedagang, serta sebagai pejuang yang terlibat aktif dalam merebut kemerdekaan dari penjajah, sehingga terbentuk NKRI yang kita cintai,” terang Didin Hafidhuddin saat menyampaikan materi dalam FGD yang diselenggarakan DPW PKS Jawa Barat melalui zoom meeting, Sabtu (15/8/2020) di Bandung.

Bahkan perjuangan mereka, lanjut Ketua Baznas ini jauh sebelum kemerdekaan. Bagi para ulama dan para santri ketika itu merebut kemerdekaan adalah bagian dari panggilan akidah, panggilan dari Tauhid dan keimanan kepada Allah SWT.

“Bahkan para pendiri negara ini (The Founding Fathers) tidak ragu-ragu untuk menempatkan kata-kata Allah dalam mukadimah (Pembukaan, red) Undang-Undang Dasar 1945, pada alenia ketiga: Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya,” jelasnya.

Peran penting lainnya dari lembaga pesantren ini karena dari sini pula akar budaya Indonesia lahir yang merupakan sari pati dari budaya Islam. KH Didin menyebutkan pesantren memiliki budaya (dengan berbagai perubahan, sesuai dengan tuntutan zaman) yang diwariskan secara terus menerus sehingga menjadi kepribadian pondok pesantren.

“Pertama budaya adab dan akhlak adalah dua hal yang sangat utama di pondok pesantren. Semua proses belajar mengajar yang berlangsung berlandaskan pada akhlak dan adab. Kedua, yang menghadirkan kecintaan pada ilmu. Ketiga, budaya ukhuwwah dan jamaah. Membangun suasana yang kondusif untuk membiasakan berjamaah baik dalam bidang ibadah maupun dalam bidang muamalah. Keempat, budaya dakwah amar makruf Nahyi munkar untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dengan pendekatan hikmah dan keteladanan. Kelima, budaya mandiri dalam memenuhi kebutuhannya sekaligus mengajak bersikap mandiri pada masyarakatnya,” urainya.