Main Sepak Bola Api Harus Memiliki Ilmu Kekebalan Diri?

oleh -
Para santri berebut bola api dalam pertandingan yang digelar dalam rangka memeringati Tahun Baru Islam baru-baru ini.

RADARSUMEDANG.ID–Untuk memeriahkan peringatan tahun baru Islam 1442 hijriyah, santri di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Desa Sukamantri Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang Jawa Barat mengisinya dengan pertandingan sepak bola api. Pertandingan tersebut dilaksanakan di Lapangan Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, Jumat (21/8/2020) malam.

Lurah santri Abdul Majid Hayyudin mengungkapkan pertandingan bola api ini sudah menjadi agenda tahunan di Pesantren Al-Hikamussalafiyyah. Menurutnya setiap tahun kerap digelar pada masa orientasi santri baru.

“Berhubung pada awal masuk santri kemarin ada larangan berkerumun untuk pencegahan penyebaran Covid-19, jadi pertandingan bola api baru bisa dilaksanakan sekarang berbarengan dengan menyambut tahun baru Islam,” ungkap Majid.

Majid menjelaskan bola dalam permainan bola api ini terbuat dari kelapa tua yang kulit kelapanya sudah dikupas terlebih dahulu dan sehingga tinggal sabutnya saja.

“Bongkahan sabut kelapa yang berbentuk bundar tersebut kemudian direndam beberapa hari dalam minyak tanah dan solar. Hal ini dilakukan supaya minyak tanah dan solar tersebut bisa menyerap ke dalam serat sabut kelapa,” urai Majid.

Dalam pelaksanaannya, seluruh santri yang akan bermain bola dibagi menjadi beberapa regu. Tiap regunya lima orang. Permainan berjalan seperti sepak bola pada umumnya, yang beda itu hanya bolanya saja.

“Yang ini memakai bola api yang menyala. Durasi waktu satu pertandingan pun hanya sepuluh menit. Pemenang dalam permainan ini ditentukan lewat gol yang dihasilkan,” jelasnya.

Sebelum pertandingan, seluruh peserta berdiri mengelilingi lapangan. Mereka bersama-sama melafalkan doa keselamatan. Santri yang tidak ikut bermain berdiri menjadi pagar. Agar bola tidak keluar lapangan.

Majid juga mengatakan tidak ada ilmu kebal atau sejenisnya yang harus dikuasai para santri. Mereka bermain bola api secara alamiah. Meski cukup berbahaya, para santri tampak sangat menikmati permainan. Mereka tidak henti-hentinya bersorak kegirangan. Dengan kaki telanjang mereka tangkas memainkan bola api dari kaki ke kaki.