Semua Orang Bisa Mengambil Hikmah Dibalik Pandemi Covid-19

oleh -
Di masa pandemi kesadaran sosial masyarakat dalam berbagi dengan sesama semakin baik

RADARSUMEDANG.ID--Siapa sangka masa pandemi Covid-19 di Indonesia belum diketahui kapan akan segera berakhir. Tidak ada satupun yang mengetahuinya, hanya saja barus sebatas prediksi itu pun seiring semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat Indonesia dalam menjalankan gaya hidup di tengah pandemi dengan disiplin menjalankan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan).

Nah, biar kita semakin termotivasi dan disiplin dalam menjalankan 3M dalam keseharian, tidak ada salahnya kita ketahui, kalau milyuner dunia yang juga pendiri Microsoft pernah memprediksi kapan pandemi Covid-19 ini berakhir di dunia.

Dia memperkirakan pandemi Covid-19 mulai berakhir pada akhir 2021 seiring dengan mulai efektifnya vaksin Covid-19 di berbagai belahan negara di dunia. Bill Gate juga memperkirakan hingga awal 2022 diprediksi covid-19 bisa teratasi dengan baik.

Dari penyataan Bill Gate tersebut, tidak menyatakan kalau penyakit yang disebabkan virus Covid-19 ini hilang, hanya pandeminya yang bisa teratasi dengan baik. Artinya, seperti sejak awal ramai diberitakan, Covid-19 akan selama ada dan kita harus bisa hidup berdampingan dengan Covid-19.

Jelas, pandemi ini bisa segera berakhir ketika efektifnya dilakukan vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat. Maka selama vaksin masih dalam tahap uji coba sepertinya pandemi ini masih terus berlangsung dan harus sadar dan bijak untuk menjalan prokes terutama 3M.

Meskipun begitu kita tetap bisa mengambil pelajaran berharga dari pandemi Covid-19. Banyak hikmah yang bisa dipetik bagi setiap orang, di berbagai bidang. Bagi kelangsungan lingkungan, ternyata dari adanya pandemi ini, menurunkan tingkat polusi di beberapa kota besar di dunia, sehingga langit di kota-kota besar menjadi bersih dan kadar karbondioksida menurun, seiring diwajibkannya bekerja dari rumah (WFH).

Bagi sebuah keluarga yang kedua orang tuanya disibukan bekerja di kantor, selama pandemi ini, lebih banyak tinggal di rumah dan kehidupan keluarga menjadi lebih harmonis. Yang setiap harinya si anak ditinggal orangtuanya bekerja, selama pandemi kedekatan orang tua dan anak semakin terbangun kuat.

Dalam bidang pendidikan atau pengajaran, dengan adanya pandemi ini, praktis beralih dari tadinya tatap muka menjadi belajar online atau virtual. Hikmahnya, orang tua bisa memahami bahwa pekerjaan mendidik anak itu tidak mudah, hal itu baru diketahui ketika banyak para orang tua yang menggantikan peran guru di rumah terutama bagi putra-putrinya yang masih di tingkat taman kanak-kanak sederajat.

Di kehidupan keagamaan pun, sepertinya terlihat banyak melanggar ajaran agama, namun ternyata, dengan adanya pandemi ini juga, di setiap komunitas agama yang ada di Indonesia mau menyadari betapa pentingnya menjalankan prokes dalam menjalankan ibadahnya masing-masing. Sehingga pada akhirnya prokes yang awalnya bakal susah diterapkan di bidang agama, sedikit demi sedikit bisa diterapkan dengan baik dengan dibarengi adanya kesadaran bersama.

Dalam bidang kesehatan pun, secara tidak langsung adanya pandemi ini memberikan sugesti positif agar kita jangan sakit dan selalu menjaga kesehatan. Apalagi jika harus masuk rumah sakit, sudah tidak ada lagi tempat karena sudah terisi dengan mereka yang terpapar Covid-19. Maka terbangunlah sugesti harus sehat, harus sembuh dan jangan sampai masuk rumah sakit. Caranya dengan menjalan pola hidup sehat, menjaga pola makan, memberikan asupan makanan bergizi, menambah suplemen vitamin.

Lihat saja, selama pandemi, olahraga yang digemari adalah bersepeda atau gowes. Bahkan sempat heboh, di kota-kota besar di Indonesia orang-orang mulai ramai olahrga bersepeda. Di DKI Jakarta malah, bersepeda diberikan fasiltas khusus oleh pemerintah setempat dan diberikan kenyamanan di saat Car Free Day. Toko-toko penjual sepeda laris manis, sampai harga sepeda naik signifikan, yang tadinya harga sepeda termurah masih ada yang harnya Rp 1,5 juta, di masa itu nyaris yang termurah di angka Rp 2 jutaan.

Bagi toko-toko tanaman, di masa pandemi ini juga meraup keuntungan. Seiring fenomena tanaman yang baru muncul di masa pandemi. Menurut hasil penelusuran, maraknya toko tanaman hias dan ikan hias seperti ikan cupang, lantaran masih banyaknya pekerja yang bekerja di rumah atau WFH. Untuk mengatasi kebosanan di masa WFH ini mereka memilih menyalurkan hobinya dengan menanam tanamann hias dan memelihara ikan hias.

Itulah sekelumit hikmah dibalik pandemi ini yang tentu saja itu baru sedikit saja, karena sejatinya adanya pandemi ini berpengaruh di segala bidang dan sendi kehidupan. Satu hal saja mungkin, pandemi ini tidak bisa menunda pelaksanaan Pilkada Serentak 2020. (*/rik)