Ada Lagi Hajatan Dibubarkan, APPS Sumedang Tawarkan Solusi

oleh -

 

Sumedang – Aliansi Penyelenggara Pernikahan Sumedang (APPS) Sumedang, menyayangkan dengan ditemukannya kembali resepsi pernikahan di Sumedang yang dibubarkan paksa oleh petugas gabungan, akibat melanggar Perbup mengenai PPKM.

“Kami menyayangkan adanya pembubaran paksa terkait dengan adanya kegiatan hiburan ditengah resepsi pernikahan. Karena bagaimanapun pemangku hajat sudah berkorban banyak baik materi, waktu dan sebagainya. Lebih lagi untuk menyiapkannya bukan uang yang sedikit,” kata Ketua APPS Sumedang, Wok Bachman kepada Radar Sumedang, Selasa (2/3).

Padahal kata dia, dalam penyelenggaraan resepsi atau hajatan, ada poin-poin aman bagaimana melaksanakan resepsi atau hajatan di era pandemi Covid-19 ini. Terlebih poin-poin ini sudah disetujui oleh Pemerintah Daerah terutama Forkopimda.

Ia pun menghimbau kepada pemangku hajat agar memperhatikan betul penyelenggara itu terhadap protokol kesehatan. Jangan sampai, karena sikap awam masyarakat salah memilih vendor-vendor dan berujung pada pembubaran.

“Alhamdulillah sebetulnya vendor-vendor sudah teredukasi dalam penerapan protokol kesehatan ada 528 vendor. Itu sudah disertifikasi dengan 8 poin rekomendasi teknis prokes. Jadi insyaallah kalau misalkan pemangku hajat memilih vendor-vendor yang sudah tersertifikasi oleh APPS mungkin tidak akan seperti itu, dam perizinan juga akan ditempuh,” ujarnya.

Disisi lain, pihaknya juga berharap kedepan petugas bisa lebih arif dan bijak terutama dalam mengukur sejauh mana prokes dalam resepsi diterapkan.

“Kami memohon toleransi dari para penegak aturan, baik dari Satpol-PP Kabupaten atau MP kecamatan. Selama tidak ada hal urgent pelanggaran prokes, saya kira mohon ditemupuh cara-cara kekeluargaan atau tidak melalui cara pembubaran paksa,” tukasnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga berkeinginan semua resepsi pernikahan di Sumedang terutama di masa pandemi Covid-19 ini berjalan lancar.

Sebab bagaimanapun momentum tersebut merupakan momen bersejarah bagi para pengantin dan keluarga dan akan dikenang seumur hidup. Lebih lagi sertifikasi vendor-vendor atau wedding organizer (WO) juga bertujuan untuk menjaga roda ekonomi berjalan untuk para vendor.

“Jadi baik yang di pelosok atau di perkotaan yang outdoor yang panggung kecil kami ingin semuanya berjalan lancar. Walaupun itu skalanya kecil apalagi untuk masyarakat kecil kasian juga kalau terjadi,” imbuhnya.

 

Terkahir, berkaca dari kejadian di Cisarua dan wilayah lainnya, dirinya menawarkan satu solusi bagi masyarakat yang tidak mampu membayar wedding organizer.

“Kami siap memberikan pendampingan dsn edukasi secara gratis sampai memonitor pada hari H. Kami siapkan satu orang dari APPS. Jadi tidak hanya acara lancar karena WO, bagi masyarakat yang ingin menggelar resepsi tapi tidak mampu menyewa WO,” pungkas Wok Bachman. (jim)