Terlalu Dini Menuding Margasoka Penyebab Banjir Bandang

oleh -
Sejumlah lahan persawahan warga mengalami kerusakan akibat banjir bandang Sungai Cihonje, Kamis (25/3/2021).

SUMSEL, RADARSUMEDANG.ID–Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kawasan Citengah, Cipancar dan Baginda masih menyisakan sejumlah permasalahan. Sebagian pihak menuding penyebab terjadinya longsor dan banjir bandang tersebut karena terjadi perubahan alih fungsi lahan di kawasan perkebunan teh Margawindu Cisoka (Margasoka) Desa Citengah Kecamatan Sumedang Selatan.

Namun, pendapat lain datang dari warga Cipancar sendiri yang juga menjadi korban banjir bandang yang terjadi pada Kamis (25/3/2021) sore itu. E Tohari, 47, salah seorang warga yang juga tokoh masyarakat Cipancar mengungkapkan masalah banjir bandang dan longsor di Cipancar dan Baginda tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, tetapi meliputi penyebab yang kompleks.

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan empati buat para korban, karena sayapun menjadi korban, sebagai warga asli daerah ini, merasa ‘katempuhan’ daerah Margasoka terus menjadi kambing hitam penyebab banjir,” kata Tohari, kemarin (29/3/2021).

Menurut Tohari terlalu dini rasanya menyimpulkan penyebab banjir bandang dan longsor Cipancar dan Baginda tanpa adanya kajian lengkap dalam melihat sebuah fakta.

Untuk meluruskan hal itu, Tohari mengungkapkan bahwa aliran Sungai Cihonje yang menjadi sumber banjir bandang memiliki tiga anak sungai yaitu Sungai Cibingbin yang meliputi daerah tangkapan air areal Margawindu Cisoka; Sungai Citengah yang meliputi daerah resapan air sekitar Hutan Lindung; dan ketiga Sungai Citundun yang meliputi daerah resapan air wilayah Cijolang dan Perhutani Sompok.

Menurutnya, saat kejadian kemarin ketiga anak sungai tidak mampu menampung debit air akibat curah hujan yang luar biasa. “Debit air ditambah lagi dari aliran sungai yang kecil, Cidangdang, Cimandala dan Cikuhil, akhirnya Cihonje meluap,” terang Tohari.

Tohari menegaskan terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa penyebab banjir adalah wilayah Margasoka. “Karena debit air justru lebih besar di aliran sungai Citengah dan Citundun bukan dari Sungai Cibingbin yang berasal dari Margasoka. Hal ini diakibatkan di areal Sompok (aliran Citundun) terjadi kebakaran hutan di musim kemarin yang berakibat mengurangi daya resap air di wilayah tersebut,” urainya.

Sementara itu tokoh masyarakat Cipancar lainnya, H Budiman mengatakan hal senada dengan E Tohari. Menurut H Budiman penyebab banjir bandang Sungai Cihonje lebih disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem.

Terlebih, lanjut Budiman, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis informasi peringatan dini cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia yang akan terjadi pada Kamis (25/3/2021).

“Dalam laman resminya, BMKG memprediksi wilayah-wilayah berpotensi hujan petir dan angin kencang yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia termasuk di wilayah Jawa Barat dan Sumedang, karena pada saat itu terjadi siklon tropis dari Samudra Hindia,” ujar Budiman.(rik)