Spirit Jafest 2019 Belum Berakhir

oleh -

JATINANGOR – Spirit Jatinangor Festival (Jafest) bertema “ngahijikeun rasa ngawangun tatanan” baru diselenggarakan beberapa hari kebelakang. Namun Dengan berakhirnya kegiatan jafes ke 5 tahun 2019 kemarin, bukan pula berakhinya spirit jafest.

“Ini langkah awal jatinangor berbenah untuk mengimbangi begitu pesatnya pembangunan di jatinangor,” ujar Piping dan Dadan Ramdan Komunitas Sunda Mentang kepada radar sumedang di Sabusu Jatinangor.

Lebih lanjut, kata Piping Jatinangor adalah kecamatan yang di isi oleh masyarakat seluruh indonesia. Ketika kegiatan di laksanakan di jatinangor gaungnya bisa sampai Nasional dan Internasional. Sehingga akan ada korelasi ketika wisatawan berkunjung ke jatinangor dan ingin tahu sumedang.

“Sampai hari ini kami menunggu kepedulian bupati sebagai pucuk pimpinan di sumedang untuk mengadakan kegiatan yang sifatnya monumental, namun sampai hari ini pun belum terpikirkan karna di sadari atau tidak mau sampai kapan sumedang terdiam? karna pasukan beton dan pasukan baja sudah hadir dari barat sampai ke timur wilayah sumedang,” sebutnya.

Ia mengatakan, hal itu belum terlambat untuk berbenah harapanya ada sekala prioritas dan jangan sampai cacagnangkaeun yang pada ahirnya tidak jadi apa- apa.

“Salah satu contoh ketidak seriusan pemerintah diantaranya adalah puspem dari beberapa tajun ke belakang sampai sekarang masih hanya jadi wacana ceuk orang sunda mah euweuh burihan. mau sampe kapan jatinangor jadi saukur lalajo,” katanya.

Selain itu, ditambahkan Dadan Ramdan yang juga Komunitas Sunda Mentang menyebut bahwa masih banyak ketidak seriusan pemerintah diantaranya yang berhubungan dengan karya karya yang ada di cipacing,cikeruh,cibeusi jatiroke cileles,cilayung,cintamulya dan desa desa lainnya yang ada di kec jatinangor itupun tidak tersentuh.

Lebih lanjut kata Dadan, seperti yang ditulis Keith Dinnie, Associate Professor di Temple University Japan dan Director of the Centre for Place Brand Management (sebelumnya, the Centre for City Branding) dalam Barrows (2014) mendeskripsikan city branding sebagai penggunaan dan pengaplikasian branding yang berasal dari dunia komersil ke dalam pembangunan kota, regenerasi, dan kualitas hidup.

“Pembuat kebijakan harus mampu menentukan identitas dan aspek fokus branding yang dapat menjadi daya tarik banyak pihak. Penentukan sebuah identitas dan brand membutuhkan keterlibatan komunitas. Keterlibatan pihak terkait dengan imajinasi dan pikiran terbuka merupakan hal penting untuk identifikasi dan penentuan spesifik brand yang tepat untuk mengekspresikan dengan efektif karakter unik sebuah kota,” kata Dadan. (Isl)

Ismail / radar sumedang