Biaya Pemulangan Jenazah Atin Ditanggung Pemerintah

oleh -
Jenazah Atin Permana saat akan dibawa ke mobil ambulance

SUMEDANG – Atin Permana (24), pekerja migran Indonesia (PMI) Dusun Cikaraha RT 03/04, Desa Bugel, Kecamatan Tomo dikabarkan meninggal dunia di Negeri Jiran Malaysia pada Sabtu (4/7) minggu lalu.

Sebelum meninggal, Atin diketahui mengalami kelumpuhan setelah dirinya mengalami stroke dan sempat dirawat di Rumah Sakit Serdang Kuala Lumpur Malaysia.

Oleh sebab itu Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) telah memfasilitasi kepulangan Atin.

Menurut Kabid Penempatan dan Perluasan Ketenagakerjaan Asep Rahmat, setelah melalui proses identifikasi, otopsi dan menyelesaikan prosedur administrasi, jenazah Atin Permana berhasil diterbangkan dari Malaysia ke Indonesia.

“Alhamdulillah berdasarkan informasi terakhir pada hari ini (12/7), jenazah berada di RSCM Jakarta. Rencananya jenazah akan dikirim ke Sumedang dan dimakamkan oleh pihak keluarga,” kata Asep Rahmat dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/7).

Kata dia, pemulangan Atin sudah diproses sejak bulan Juni 2020. Karena berdasarkan informasi dan pengaduan awal, yang bersangkutan menderita lumpuh dan ingin difasilitasi pulang.

Karenanya sesuai dengan Tupoksi Disnakertrans didorong kebijakan Bupati Sumedang.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan KBRI dan Kementerian Luar Negeri RI untuk pemulangan Atin. Namun, di tengah perjalanan, takdir berkata lain, dalam masa proses pemulangan tersebut, Atin meninggal dunia di Malaysia.

Belakang penyebab kematian Atin diduga mengidap ‘septic shock’ (peradangan diseluruh tubuh akibat infeksi).

“Dari awal, Atin sudah ditindaklanjuti minta bantuan ke Kementerian Luar Negeri. Selanjutnya kami juga berkirim surat yang ditandangani oleh Pak Bupati ke KBRI Kuala Lumpur. Tapi Tuhan berkehendak lain, Atin meninggal, jadi kita buat surat lagi ke KBRI untuk proses pemulangan jenazah,” tuturnya.

Ia menjelaskan, proses pemulangan jenazah PMI/TKI memakan waktu 3 bulan. Namun untuk kali ini tidak terlalu lama, lantaran ada koordinasi yang apik antara Pemerintah Daerah, KBRI, Kementerian Luar Negeri, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Provinsi Jawa Barat dan dukungan dari berbagai elemen yang memberikan respon cepat dalam penanganannya.

“Alhamdulillah saudara Atin sudah diterbangkan dan atas kebijakan bupati, biaya pemulangan ditanggung Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Baznas. Biasanya pemulangan sampai 3 bulan, mungkin karena semua elemen bergerak dan responsif sehingga prosesnya tidak terlalu lama,” jelas Asep Rahmat.

Lebih lanjut Asep mengatakan, status pekerjaan Atin masuk dalam tenaga kerja non prosedural atau tidak tercatat di Disnakertrans.

Oleh sebab itu dengan adanya kejadian seperti ini, ia pun memberikan himbauan kepada warga bila hendak bekerja di luar negeri agar menggunakan jalur resmi.

“Masyarakat berhak bekerja dimana saja termasuk di luar negeri. Tapi kami mengimbau agar memakai jalur resmi sehingga perlindungan mereka terpantau oleh kita,” ujarnya.

Tak sampai disitu, karena kondisi keluarga almarhumah termasuk kategori keluarga yang tidak mampu. Pihaknya memastikan keluarga Almarhumah akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Sehingga selain menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, diharapkan ada pihak yang ikut membantu meringankan beban keluarga almarhumah.

“Insyaallah akan kami tindak lanjuti karena jika dilihat dari kondisinya sangat memprihatikan. Mudah-mudahan ada pihak yang membantu keberlangsungan hidup keluarganya, termasuk kelangsungan pendidikan anak yang ditinggalkan oleh almarhumah,” pungkasnya.

Seperti diberitakan Radar Sumedang sebelumnya pada tanggal 22 Juni 2020 lalu Atin menderita lumpuh setelah sebelumnya mengalami sakit stroke selama 8 bulan.

berdasarkan informasi yang didapat dari Komunitas Keluarga Buruh Migran (KKBM) Ujungjaya, Atin berangkat ke Malaysia pada tahun 2019 lalu.

Namun dikatakannya saat berangkat ke Brunei Darussalam, Atin tercatat sebagai TKI legal, dan sepulang dari Brunei Darussalam tidak ada kabar lagi dari Atin.

Alhasil ketika berangkat ke Malaysia diduga sebagai TKI ilegal, tanpa sepengetahuan pihak keluarga.

Selang satu tahun tepatnya pada awal Juni 2020 ini, ada kabar dari sesama PMI di Kuala Lumpur Malaysia bahwasanya Atin menderita lumpuh dan meminta ingin difasilitasi untuk pulang.

Kendati meski tergolong TKI ilegal, Atin mesti difasilitasi agar dapat kembali pulang ke Sumedang dan segera diobati. (jim)

 

oleh