Air Berkurang Bukan Karena Irigasi Jebol

oleh -
Salah seorang petani di Desa Cileles saat meratapi sawahnya yang mengalami kekurangan air

TANJUNGSARI – Sejumlah petani di Sawah blok Lebakjati Desa Cileles Kecamatan Jatinangor mengaku mengalami kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah warga.

Kesulitan petani dalam memperoleh air dirasakannya sudah terjadi sekitar 5 tahun lalu, yang disebabkan karena adanya irigasi/saluran air yang rusak.

Salah seorang petani Otoy (50) mengatakan, dampak sulitnya mendapatkan air, mengakibatkan ratusan hektar sawah menjadi terbengkalai. Bahkan, dalam satu tahun petani hanya bisa melakukan penanaman ketika musim hujan saja.

“Penyiraman hanya bisa dilakukan 1 Minggu sekali digilir karena banyak yang membutuhkan, agar air bisa sampai ke sawah harus dikawal, saya saja berangkat dari jam 11 siang pulang kerumah jam 12 malam,” tambahnya.

Otoy menambahkan, dampak sulit mendapatkan air, mengakibatkan ratusan hektar sawah menjadi terbengkalai. Bahkan, dalam satu tahun petani hanya bisa melakukan penanaman ketika musim hujan saja.

Menurutnya, Air diperoleh dari sumber air Cigondok airnya cukup besar, namun karena banyak saluran air yang jebol air tidak sampai kesini.

“Solusinya ingin seperti dulu ada pengontrolan rutin dari pihak pemerintah, sehingga ketika ada kendala bisa langsung ditangani,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Kepala UPTD PUPR wilayah Tanjungsari Edi mengatakan adanya keluhan petani di Jatinangor karena tidak bisa menyirami tanaman secara rutin bukan karena saluran yang jebol, melainkan air menjadi berkurang karena penyedotan menggunakan mesin dengan skala besar.

“Penyedotan air dari sungai dilakukan oleh pihak terkait. Bahkan penyedotan air tersebut, tidak ada koordinasi dengan pihak UPTD PUPR wilayah Tanjungsari. Kami telah menyisir saluran air, namun tidak ditemukan adanya saluran air yang jebol ada juga yang longsor itu pun skala kecil dan tidak mengganggu air mengalir,” ucapnya. (tha).

oleh