Kasus DBD di Sumedang Cukup Tinggi, Dinkes Bakal Berantas Sarang Nyamuk

oleh -
Sekertaris Dinas Kesehatan Kab Sumedang, Uyu Wahyudin

KOTA – Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengeluarkan Surat Edaran perihal Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serentak di wilayah Sumedang. Surat Edaran tersebut menyusul tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumedang, sehingga berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB) dan wabah.

Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, hingga saat ini kasus DBD di Sumedang sudah mencapai 475 kasus dengan pasien meninggal dunia sebanyak 5 orang. Dari total jumlah sebanyak 475 kasus itu rinciannya, pada Januari ada 52 kasus, Februari 56, Maret 114, April 47, Mei 53, Juni 73, Juli 57, dan Agustus 13 kasus.

Sementara untuk kasus meninggal dunia akibat penyakit DBD tersebut terjadi pada Januari dengan jumlah 2 orang dan pada Mei 2020 ada 3 orang yang meninggal dunia akibat penyakit dari nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Uyu Wahyudin mengatakan, untuk mencegah lebih banyak kasus DBD ini, pada 14 Agustus nanti pihaknya bakal melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serentak.

“Upaya ini (PSN serentak) merupakan salah satu cara untuk mencegah DBD di Kabupaten Sumedang sesuai surat edaran dari Bupati,” ujarnya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Jalan Kutamaya, Selasa (11/8).

Menurutnya, Surat Edaran Bupati terkait pelaksanaan PSN serentak itu sudah tepat karena gerakan seperti ini bisa dilakukan oleh siapa saja atau seluruh lapisan masyarakat.

“Karena gerakan ini sangat murah dan mudah dengan strategi menguras, menutup, dan mengubur (3M) barang-barang bekas yang bisa menjadi perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti,” kata Uyu.

Ia mengatakan, upaya tersebut memang harus dilakukan semua lapisan masyarakat karena semua daerah di Kabupaten Sumedang sangat berpotensi terjadi peningkatan jumlah kasus DBD.

“Kasus DBD tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi di semua daerah. Dulu memang kasus ini sering terjadi di perkotaan, tetapi karena mobilitas penduduk maka kasus DBD juga ditemukan di daerah-daerah,” ucapnya.

Lebih jauh Uyu mengatakan, kasus DBD di Sumedang belum berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB), sebab terbilang masih terkendali. Kata Uyu, penetapan KLB suatu daerah tergantung dari beberapa indikator, diantaranya peningkatan jumlah kasus dari tahun sebelumnya.

“Jumlah kasus DBD di Sumedang tahun ini masih rata-rata masih sama dengan tahun lalu, jadi untuk Sumedang belum berpotensi KLB DBD,” kata Uyu.