Awalnya Jatuh di Sungai, Hingga Akhirnya Menderita Hidrosefalus

oleh -

KOTA – Seorang bayi bernama Andin Saputri didiagnosa menderita penyakit hidrosefalus. Karena penyakinya tersebut, ukuran kepala Andin yang pada tanggal 26 Agustus 2020 genap berusia 1 tahun ini lebih besar dari ukuran normal, sedangkan ukuran tubuhnya sangat kecil. Kondisi tersebut terjadi karena menumpuknya cairan di dalam otak.

Andin merupakan anak ke tiga pasangan Yuli Istiana (26) dan Dadan Kardani (50), yang tinggal di rumah kontrakan di Jln. Kutamaya, tepatnya di Lingkungan Palasari RT 01 RW 14 Kelurahan Kota Kulon Kecamatan Sumedang Selatan, hanya beberapa meter dari Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang.

Keluarga tersebut termasuk kalangan ekonomi bawah, karena Dadan hanya bekerja sebagai buruh serabutan, sementara Yuli tidak bekerja.

Yuli menuturkan, Andin didiagnosa hidrosefalus sejak dalam kandungan

“Waktu saya hamil 5 bulan jatuh di sungai, kemudian dicek ke rumah sakit, kata dokter kepala anak saya retak, dan bakal hydorcepalus,” ujarnya, Jumat (21/8).

Yuli menuturkan, kepala Andin sudah besar saat lahir. Bobot Andin saat lahir seberat 3 Kg. Karena otaknya tidak berkembang, kini setelah usianya 1 tahun berat badan Andin hanya 5 Kg. Andin lahir secara normal.

“Saat usia 6 bulan Andin dioperasi pemasangan selang untuk aliran cairan di kepala ke tubuhnya, setelah itu ukuran kepalanya agak mengecil, tapi tubuhnya juga tetap kecil,” ujarnya.

Sejak operasi tersebut, kata Yuli, kini sebulan sekali Andin harus kontrol ke RSUD Sumedang. Untuk pendaftaran Ia harus mengeluarkan uang Rp 100 ribu sekali kontrol, sementara untuk obat, Yuli bisa mengeluarkan uang Rp 200 ribu. Yuli harus mengeluarkan uang tersebut karena belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

“Pakai Jamkesda, karena tidak punya BPJS,” ucapnya.

Yuli mengaku biaya pengobatan Andin sangat mahal, sebab suaminya hanya bekerja serabutan. Yuli dan suaminya menikah secara sirih. Berdasarkan KTP Yuli merupakan warga Brebes Jawa Tengah, sedangkan suaminya merupakan warga Kecamatan Jatinangor.

“Belum pernah dapat bantuan, kalau kata RT alasannya karena saya bukan warga sini, jadi tidak bisa bantu,” ungkapnya. (gun)