Wabup Erwan Mengaku Prihatin Banyak Anak Hidrosifalus di Sumedang

oleh -
Wabup Erwan Setiawan saat sambangi balita penderita Hidrosefalus Teuku Sami Kedira umur 6 tahun di Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kamis (27/8).

Radarsumedang.id – Satu lagi anak penderita Hidrosefalus ditemukan di Kecamatan Sumedang Selatan.

Kali ini datang dari Teuku Sami Kedira (6) yang merupakan anak ke-4 dari pasangan Arni (35) dan Iskahyudi (47) asal Dusun Mekarbakti RT.001/RW.002, Desa.Sukajaya, Kec.Sumedang Selatan.

Wakil Bupati Sumedang H. Erwan Setiawan pun kembali turun untuk meninjau langsung ke rumah penderita Hidrosefalus itu.

“Ini merupakan kunjungan saya ketiga kalinya, dan tentunya saya ikut prihatin dengan banyaknya pasien yang mengidap Hidrosepalus di kabupaten Sumedang,” kata Erwan, Kamis (27/8).

Kedepannya, Erwan berharap penderita Hidrosepalus ini bisa segera ditangani dan tentunya tidak ada lagi kasus seperti ini di Sumedang.

“Seharusnya ini sudah bisa di deteksi ketika dimasa kehamilan, Dokter maupun Bidan memberikan penjelasan kepada Ibu hamil resiko dari Hidrosefalus ini jangan sampai bertambah lagi kasus serupa terutama di Sumedang,” ujarnya.

Idealnya kata Erwan, para ibu hamil mesti menjaga, merawat, juga memperhatikan asupan vitamin dan gizinya dengan baik.

Untuk itu, peran dari tenaga kesehatan seperti dari Puskesmas dan Posyandu harus dimaksimalkan lagi, supaya lebih terpantau perkembangan dari Ibu hamil.

Bahkan dirinya sudah menegaskan saat kunjungannya kemarin ke kasus serupa, Wabup Erwan akan memberikan perhatian lebih kepada pasien-pasien seperti ini. Mengingat kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang membutuhkan bantuan.

“Kemarin saya juga sudah tegaskan terkait administrasi bisa dilakukan belakangan atau sambil pararel. Karena demi kemanusiaan utamakan dulu orangnya, dan administrasi bisa belakangan atau tetap diurus sambil berjalan saja.” katanya.

Erwan menambahkan, untuk masalah kesehatan dan urusan perut masyarakat, tidak ada yang susah dan jangan dipersulit. Namun harus di perhatikan dan tentunya harus diprioritaskan.

“Peran masyarakat, RT,RW, Desa sampai kecamatan diharapkan harus betul-betul pro aktif. Sisir lagi masyarakat kita yang belum dan yang harus menerima bantuan dan segera laporkan kepada kami,” tegas Erwan.

Senada, Kepala Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan Nenden Dewi Raspati mengatakan, pihaknya sudah proaktif dalam menangani kasus ini dengan berkoordinasi dengan puskesmas setempat sampai ke tingkat RT/RW

“Alhamdulilah kita juga himbau kepada orang tua apabila ada kebutuhan yang memang darurat bisa melapor ke RT RW maupun Desa. Sejauh ini kami juga memberikan kebutuhan seperti susu, pampers dan lain sebagainya, begitu dirawat di RS kita juga bantu memfasilitasi bekerjasama dengan Baznas,” kata Nenden.

Nenden menambahkan, untuk jaminan kesehatan yang diberikan untuk ibu dan balita penderita Hidrosefalus telah dimiliki sejak lama. Meskipun terkadang selain ada layanan obat gratis, pihaknya kerepotan jika harus ada obat diluar BPJS.

“Sampai saat ini keluarga tidak pernah mengeluh dan selalu kondusif karena pemerintah desa sangat responsif membantu warganya yang membutuhkan. Karena sebelum orang lain, baiknya dari warga masyarakat atau Pemerintah Desa yang harus bergerak cepat,” pungkas Nenden.

Sementara, Arni yang merupakan Ibu dari Teuku mengungkapkan, awal mula buah hatinya menderita Hidrocefalus sudah terlihat saat usianya 4 bulan dan lahir secara prematur.

Pada saat itu Teuku sempat menjalani operasi di rumah sakit swasta di Bandung dengan dibiayai orang tuanya.

“Saat itu saya membiayai pengobatannya tanpa batuan jaminan kesehatan. Dengan bermodalkan menjual rumah, dilakukan operasi pemasangan selang di kepala dan endoscopy yang semuanya memakan biaya besar,” ungkap Arni.

Arni yang mata pencahariannya sebagai penjual gorengan keliling mengatakan, saat ini anaknya menjalani rawat jalan di RSUD Sumedang dengan biaya jaminan kesehatan PBI.

“Saat ini pengobatan Teuku alhamdulillah sudah dijamin oleh PBI. Sampai saat ini bidan desa selalu melakukan kunjungan rutin dan memantau kondisi kesehatan dan tumbuh kembang Teuku,” terang Arni.

Adapun dijelaskan Arni, Teuku yang ternyata menderita penyakit komplikasi Hidrosefalus, Meningitis, dan Epilepsi sehari-harinya hanya bisa makan bubur saring dan susu.

“Dokter yang memeriksa Teuku mengatakan jika otak yang saat ini berfungsi hanya tinggal 20 persen. Mudah-mudahan anak saya bisa segera diangkat penyakitnya oleh Allah SWT,” jelas Arni. (jim)