Bupati Resmikan titik 0 KM Sumedang

oleh -

Sumedang – Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir meresmikan titik 0 KM Sumedang di sekitar kawasan pertokoan Jalan Prabu Geusan Ulun, Selasa (8/9).

Penentuan titik 0 KM ini didasari bukti sejarah bahwa Sumedang sebagai salah satu kabupaten yang dilintasi Jalan Raya Pos (De Grote Post Weg) yang terbentang dari Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km pada masa Pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels pada tahun 1808.

Tugu 0 km Sumedang dibangun dan berada diantara pusat pemerintahan Alun-alun Sumedang dan pusat ekonomi Sumedang sebelah utara Sungai Cipeles.

Selain itu titik nol ini merupakan acuan atau marka tanah untuk menentukan jarak dari satu kota ke kota lainnya atau dari sebuah daerah ke daerah lainnya. Umumnya tepat di titik nol ini ditandai dengan bangunan, tugu atau patok.

“Ini sebuah bagian sejarah ketika pembangunan jalan Anyer panarukan. Jadi dulu itu setiap 40 kilometer merupakan jarak antar Kabupaten dan titik penggantian kereta kuda yang membawa logistik itu disini di 0 Km,” kata Bupati.

Dikatakan, pembangunan titik 0 KM ini sengaja dibangun untuk sekedar pengingat bagi untuk masyarakat bahwa selama ini titik 0 KM ada tepat di patok 0 KM. Meskipun saat ini seperti diketahui merupakan kawasan pertokoan.

“Jadi kalau dari Sumedang ke Bandung 45 Km, maka dihitung 0 Km-nya disini. Kedua untuk spot selfie disini juga ada narasinya yang memberikan narasi sejarah bahwa patok 0 Km itu ada disini,” katanya.

Lebih jauh diterangkan Bupati, setiap jarak 30-40km terdapat gardu pos untuk menggantikan kuda yang membawa kereta pos. Lama-kelamaan disekitar gardu pos terbentuk keramaian dan menjadi desa atau kota.

Padahal, sebelumnya lokasi gardu itu hanya tempat kandang kuda kereta pos. Sehingga pengiriman pos terus berjalan sampai tujuan. Sekarang jika diperhatikan jarak antara tiap kota sepanjang jalan pos ini berjarak sekitar 30-40km.

“Fungsi lain dari Titik 0 Kilometer adalah untuk memudahkan orientasi seseorang yang berada di dalam kota. Dulu, penomoran jalan juga berpatokan pada titik nol tersebut, karena semakin dekat dengan tugu maka nomor jalan semakin kecil dan sebaliknya semakin jauh dengan tugu tersebut maka nomor jalan akan semakin besar. Dengan demikian, orang yang berada di tengah kota bisa melakukan orientasi,” terang Bupati.

Karenanya patok 0 km harus dijadikan sesuatu yang menarik dan menjadi salah satu ikon Sumedang. Berkaca dari bangunan yang lain di Sumedang, tugu 0 km harus menjadi landmark seperti Lingga di tengah Alun-alun Sumedang.

Atas dasar itu, Pemkab Sumedang sudah mendeklarasikan sebagai kabupaten wisata. Semua tempat harus menjadi destinasi wisata.

“Orientasinya untuk masa sekarang, orang yang pernah datang ke Sumedang bisa berfoto, selfie di tugu 0 km ini. Contoh kecilnya kalau mau melakukan pra wedding di sini maknanya adalah mulai mengarungi samudera rumah tangga bersama pasangan dari nol,” jelasnya.

Sebagai informasi, yang paling dikenang dalam pembangunan jalan pos ini adalah saat pembangunannya menerobos hutan, meneretas pegunungan cadas yang kita kenal dengan Cadas Pangeran.

Medan yang sangat berat namun dikerjakan dengan peralatan sederhana. Dengan medan yang demikian berat inilah untuk pertama kalinya, jumlah korban yang jatuh dan meninggal dunia sangat banyak. Sejarah mencatat sedikitnya ada 5.000 meninggal dunia. (jim)

Tugu titik 0 Km Kabupaten Sumedang yang berada di Jalan Prabu Geusan Ulun, Lingkungan Losmen, Kel. Kota Kulon, Kecamatan Sumedang Selatan dibangun sebagai pengingat bagi masyarakat akan bukti sejarah pembangunan Jalan Pos Anyer – Panarukan yang melintasi Sumedang