ITB Kembangkan Nutrisi Organik dan Hidroponik Aquaponik

oleh -
Masyarakat di Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan saat melihat pengembangan tanaman Hidroponik di kebun ITB

PAMULIHAN – Puluhan Dosen dari Kelompok Keahlian Sains dan Bioteknologi Tumbuhan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kebun Pendidikan Haurngombong SITH ITB. Sabtu, (31/11).

Dalam PKM tersebut, sejumlah petani di dusun pangaseran desa haurngombong mendapat pemahaman terkait alih teknologi tepat guna penerapan pupuk organik cair pada sistem Hidroponik dan aquaponik (ikan nila & lele) sayuran.

Ketua Kelompok Keahlian Anggota Dr. Rizkita Rachmi Esyanti mengatakan kegiatan PKM rutin digelar tiap tahunnya, dimana dosen-dosen dituntut untuk membagikan ilmunya. Bahkan SITH kedepannya akan memiliki desa binaan khusus dikoordinasi di Fakultas SITH.

“Tentunya itu merupakan bagian yang sangat penting supaya universitas tidak jauh dari masyarakat, selain membagikan ilmu pada saat yang sama menerima pertanyaan dari masyarakat sehingga menjadi input bagi kami untuk menyelesaikan masalah yang disampaikan oleh masyarakat,” ucapnya kepada Radar Sumedang.

Ia menjelaskan, pada dasarnya, aquaponik merupakan kombinasi antara hidroponik dengan budidaya hewan dengan air atau aquakultur. Hewan yang dimaksud dalam budidaya ini adalah ikan. Teknik ini dilakukan untuk memelihara atau mengembangkan tanaman serta ikan secara bersamaan, dalam satu tempat serta satu waktu.

“Melakukan hidroponik di rumah memang praktis dilakukan. Proses aquaponik ini terjadi simbiosis mutualisme. Tanaman mendapatkan sumber makanan dari limbah kotoran ikan. Sementara itu ikan mendapat air sebagai tempat hidup dari air setelah dimurnikan oleh tanaman. Sehingga tak perlu memberi pakan dan nutrisi untuk keduanya serta mengeluarkan biaya untukmenyediakan pakan,” tambahnya.

Untuk membuat budidaya dengan sistem ini, kata ia, dibutuhkan beberapa komponen yakni Kolam atau tangki pemeliharaan ikan, dalam hal ini ikan Nila dan Lele
Unit penangkap dan pemisahan limbah padat (sisa pakan dan feses).

“Bio filter aquaponik, sebagai media tumbuh bakteri nitrifikasi dan mengonversi amonia menjadi nitrat, yang dapat digunakan oleh tanaman.Subsistem hidroponik, yakni bagian dari sistem di mana tanaman tumbuh dengan menyerap kelebihan hara dari air. Sump, titik terendah dalam sistem.
Tempat air mengalir ke dan dari, yang dipompa kembali ke tangki pemeliharaan,” ucapnya.

Sementara itu salah seorang pemateri
Dr. Eri Mustari, Ir., M.P. mengatakan sistem hidroponik dapat menjadi salah satu solusi bagi pengembangan tanaman sayuran dengan berbagai kelebihan dibandingkan sistem pertanian konvensional.

“Pada prinsipnya tanaman dapat hidup di tanah karena tersedianya nutrisi dan jika nutrisi tersebut dapat disediakan dalam air. Faktor nutrisi menjadi salah satu faktor penentu yang paling penting dari hasil dan kualitas tanaman. Larutan nutrisi yang paling mendasar adalah Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S) yang juga dilengkapi dengan mikronutrien,” ucapnya.

Nutrisi hidroponik, tambah ia, biasanya menggunakan bahan kimia sintetik. Berdasarkan potensi bahan baku disekitar daerah Haurngombong, untuk menjadi bahan-bahan nutrisi organik cair yang dapat dijadikan nutrisi pada sistem hidroponik sayuran. Sehingga potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjadi solusi permasalahan penyediaan nutrisi.

“Pada sistem hidroponik sayuran dari bahan baku yang ada didaerah ini. Sehingga tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah memanfaatkan potensi bahan baku yang ada menjadi bahan baku pembuatan nutrisi organik cair untuk sistem hidroponik sayuran,” tambahnya.

Menurutnya, program pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk alih teknologi tepat guna untuk mengenalkan teknologi tepat guna pengunaan nutrisi organik cair pada sistem hidroponik sayuran di Desa Haurngombong.

“Produk yang diperkenalkan adalah ESBETE-20 yang merupakan alternatif penyedian nutrisi hidroponik yang dibuat dari bahan baku yang berada di sekitar lingkungan pertanian sayuran, serta berfungsi sebagai nutrisi organik cair untuk nutrisi hidroponik tanaman sayuran, seperti selada, kangkung, pakcoy dan tanaman sayuran lainnya,” tambahnya.

ESBETE-20, lanjut ia, memiliki keunggulan diantaranya terbuat dari bahan-bahan alami, memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, mudah diserap tanaman. (tha).