Gheoteater Rancakalong Sudah Mulai Beroperasi, Akses Penunjang Baru Tahun Depan Diperbaiki

oleh -

Rancakalong, Radarsumedang.id – Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir memastikan gedung pusat budaya Sunda (Gheoteater) yang berlokasi di Blok Pasir Salam, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong sudah mulai beroperasi, meskipun belum bisa digunakan secara optimal.

Meski demikian, per tahun ini terlebih dahulu Pemkab Sumedang kata dia bakal memperbaiki akses penunjang menuju Gheoteater Rancakalong.

Menurutnya penataan Gheoteater yang semula dijadwalkan tahun ini terpaksa harus terkena Refocusing anggaran.

“Disini sudah ada Gheoteater sebagai ruang untuk menampilkan dan melestarikan budaya-budaya yang ada di Sumedang pada umumnya dan khususnya Rancakalong. Tahun ini (karena terpotong oleh anggaran Covid) harusnya ada DED ternyata DED-nya di tahun depankan,” sebutnya.

Adapun karena seluruh pembangunan fisik kawasan Gheoteater ini bersumber dari anggaran Provinsi Jawa Barat. Maka Pemkab berinisiatif untuk membangun kades jalan menuju arah kawasan Gheoteater.

“Iya jadi tahun ini kami bangun dulu jalannya dari Saung Talahap – Lebak Tulang ke arah Gheoteater, kemudian kita bangun juga fasum-fasos,” ujarnya.

Dikatakan, saat ini operasional Gheoteater sudah bisa dipakai walaupun belum maksimal.

“Nanti untuk airnya sedang kita perbaiki di anggaran perubahan. Jadi secara keseluruhan DED-nya baru tahun depan sehingga dipastikan akan beroperasi secara resmi pada tahun 2022,” ucapnya.

Bupati menambahkan, Gedung yang saat ini telah rampung dibangun merupakan sebagian kecil dari pembangunan tahap pertama Pusat Budaya Sumedang sudah selesai. Ada bangunan khas di puncak bukit yang bisa melihat sekeliling 360 derajat.

Konon, gedung itu terbuat dari kayu seluruhnya. Arsitektur kayu yang sangat eksotis, dan saat masuk ke dalam gedung, kayu yang berlapis-lapis mengisi kolong bangunan.

Bangunan Gheoteater ini juga disebut-sebut mirip dengan gedung aula barat dan timur ITB Bandung yang terbuat dari kayu dan dibangun tahun pada tahun 1918 lalu.

Hingga satu abad atau 100 tahun kemudian gedung dari kayu dibangun di Rancakalong dan menjadi gedung pusat budaya Sumedang.

“Silahkan buat pementasan bisa Tarawangsa, Jaipongan atau seni budaya khas Sumedang lainnya. Selain ada tontonan juga harus ada bacaan, narasi tentang kekhasan bangunan,” tukasnya.

Bupati juga menyebutkan, alasan Rancakalong dipilih menjadi lokasi Pusat Budaya Sunda di Jawa Barat, lantaran wilayah Rancakalong berbatasan langsung dengan Kabupaten Subang sehingga kaya akan seni budaya tradisinya.

Bahkan selain kaya akan seni budaya tradisi, desa-desa di Rancakalong juga sebagian besarnya merupakan desa wisata.

Dengan demikian, Pusat Budaya di Rancakalong dibangun dengan tujuan untuk melestarikan ragam seni budaya Sunda di Jawa Barat, khususnya di Sumedang.

“Di Rancakalong sendiri punya agenda budaya tahunan yaitu ‘Ngalaksa’, ada juga Tarawangsa, dan ragam seni budaya lain asal Sumedang yang nantinya akan dipentaskan secara bergiliran setiap harinya di Pusat Budaya Sunda ini,” sebut Bupati.

Dony menyebutkan, Pusat Budaya Sunda Rancakalong ini ditunjang kemudahan akses jalan dengan adanya exit Tol Cileunyi, Sumedang, Dawuan (Cismudawu), yang tak jauh dari lokasi.

Terakhir ia memaparkan, kawasan ini berada di panorama alam perbukitan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga dari luar daerah untuk berkunjung ke lokasi.

“Bila nanti sudah rampung dibangun, selain menjadi pusat seni budaya juga akan menjadi pusat perekonomian baru di Sumedang,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, dalam ekspose Geotheater pada agenda road show Bupati, Wakil Bupati dan sejumlah Anggota DPRD di lokasi yang akan dibangun Geotheater, Rabu (4/9/2019) lalu. Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP), Ir. Gungun Nugraha, menyampaikan bahwa nantinya Geotheater ini akan digunakan untuk kepentingan seni budaya seperti galeri Sejarah Sumedang, galeri batik Kasumedangan taman budaya, galeri kesenian, musik dan tari, kuliner makanan dan Kopi, pusat pelatihan, workshop batik, kantor pengelola, sekretariat budaya, hingga tempat teater.

Menurutnya, ini merupakan sebuah kehormatan bagi Kabupaten Sumedang. Karena tidak semua daerah mendapatkan program ini.

Selain itu, proses pemilihan lokasi untuk Geotheater bukanlah hal yang mudah. Lantaran dari berbagai lokasi yang disampaikan, terpilih lokasi yang meliputi tiga desa yaitu Desa Sukamaju, Desa Sukahayu dan Desa Pamekaran.

“Pusat Budaya ini berdiri di atas lahan sekitar 11,6 hektare. Tahap pertama pada 2019 akan dibangun 1,5 hektare untuk gedung serba guna dengan dana sekitar Rp. 5 miliar. Sedangkan tahun 2020, akan dibangun tahap ke 2 dengan dana sekitar Rp. 26 miliar,” kata Gungun. (jim)