Para Juru Kunci se-Kabupaten Sumedang Berkumpul, Ini yang Mereka Lakukan

oleh -
Para juru kunci se-Kabupaten Sumedang memperingati Maulid Nabi SAW di RT 02/01, Dusun/Desa Naluk, Kecamatan Cimalaka pada suatu malam hingga menjelang subuh, baru-baru ini. (Tri Budi Satria / Radar Sumedang )

Radarsumedang.id – Wangi asap kemenyan menyengat hidung seiringan tampil kesenian gembyung di sebuah panggung dan halaman rumah berlokasi di RT 02/01, Dusun/Desa Naluk, Kecamatan Cimalaka pada suatu malam hingga menjelang subuh, baru-baru ini. Di antara mereka juga ada yang seperti kesurupan hingga kembali sadar diri.

Ketika awal mula ajaran agama Islam masuk ke Kabupaten Sumedang, hanya kaum minoritas yang bisa menerimanya. Untuk menambah daya tarik pengumpulan massa dalam misi pengembangan ajaran agama Islam, maka terlebih dahulu menampilkan berbagai kesenian daerah yang di antaranya kesenian gembyung sebagai media hiburan.

Setelah massa banyak terkumpul, secara perlahan ajaran-ajaran agama disampaikan kepada mereka sembari terus diselingi dengan hiburan kesenian daerah tadi. Di pertengahan acara juga sempat digelar pengajian. Sedangkan di penghujung acara, bara api kemenyan dipadamkan sambil terus mengucapkan kalimat-kalimat zikir dan salawatan dengan khusuk secara bersama-sama hingga aura lokasi terasa sejuk.

Acara tersebut dalam rangka memperingati Maulid Nabi SAW diselenggarakan para juru kunci se-Kabupaten Sumedang yang mengulas kembali kisah secara singkat mengenai sejarah islam masuk ke Sumedang. Versi Anggota Paguyuban Kuncen Pancar Buana Sumedang (PKPBS) Dadang Setiawan yang bertindak selaku ketua panitia pelaksana acara menyebutkan, ajaran agama Islam masuk ke Kabupaten Sumedang.

Setelah itu hingga sekarang, setiap tahun pada bulan Maulud mereka memperingati acara Maulid Nabi SAW dengan cara kembali mengisahkan berbagai kesenian daerah yang antara lain kesenian gembyung hingga akhirnya misi penyebaran agama Islam dapat tersampaikan. “Setiap tahun acara ini kita selenggarakan, tampil mengulas kembali cara-cara ketika agama Islam masuk ke Sumedang,” tuturnya.

Jika saat kondisi normal, para juru kunci se-Kabupaten Sumedang yang hadir bisa mencapai 700 orang. Lantaran musim pandemik, hanya dihadiri puluhan orang juru kunci. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat tampil mereka. Demikian pula dengan masyarakat sekitar yang berdatangan silih berganti untuk menyaksikan pertunjukkan yang berlangsung mulai dari ba’da isya hingga menjelang subuh.

“Ketika islam masuk, sebagian golongan adat dan agama bersatu untuk menyampaikan ajaran-ajaran islam melalui hiburan kesenian kepada masyarakat,” ucapnya. Sedangkan ulasan tradisi sejarah versi mereka tadi terus dilestarikan untuk generasi penerus secara turun-temurun.

Sebelum bubar, mereka menikmati makan bersama di ruangan yang telah disediakan berbagai macam makanan tradisional dan susuguhan. Sebagian dari aneka menu tersebut dibagi-bagikan untuk dibawa pulang.(tri)