Paseban Mekar Mandiri Diresmikan

oleh -

TANJUNGSARI – Dalam rangka peresmian paseban mekar mandiri diisi dengan khitanan massal dan hiburan kesenian reak di Dusun Maruyung RW 06 Desa Kutamandiri Kecamatan Tanjungsari. Minggu (15/11).

Acara peresmian dihadiri oleh Forkopimcam Tanjungsari, kepala desa beserta perangkat desa, tokoh masyarakat serta tokoh seni dan budaya,a cara tersebut diresmikan oleh kepala desa kutamandiri Caca Suryana.

Ketua Pelaksana Dadi Septiadi mengatakan didirikannya paseban bertujuan untuk kepentingan bersama atau umum juga supaya bisa digunakan sebaik-baiknya baik itu untuk kesenian ataupun kegiatan lain yang bersifat positif.

“Selain diisi untuk kegiatan grup kesenian reak, harapan kedepan bisa memberdayakan kaulinan jaman baheula (permainan jaman dulu) seperti sondlah, perepet jengkol, gatrik, boy boyan, ampar-ampar pisang dan masih banyak lagi permainan anak-anak jaman dulu yang sudah hampir punah,” ucapnya.

Ia menambahkan, saat ini ketertarikan anak-anak bermain kesenian tradisional sangat kurang, mengingat lebih tertarik bermain gedget, meskipun harus mengikuti perkembangan jaman akan tetapi permainan jaman dahulu harus tetap dilestarikan.

“Miris sekali melihat kondisi seperti ini, sehingga kami berinisiatif membuat paseban sebagai tempat untuk anak-anak atau generasi muda mengenal dan mempelajari kesenian atau kaulinan tradisional,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kutamandiri Caca Suryana menambahakan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif harus didukung apalagi untuk melestarikan kesenian dan adat budaya jaman dulu.

“Seperti contoh kecil ada tutunggulan yang biasa digunakan oleh ibu-ibu waktu jaman dulu dipakai menumbuk padi dan juga kalau ada yang mau nikahan biasana ada tutunggulan itu menandakan dan memberitaukan bahwa akan ada acara pernikahan,” ucapnya.

Selain itu, kata ia, kesenian reak yang ada di Maruyung yang sudah berdiri sejak tahun 1960 sampai saat ini bisa dilestarikan.

“Kami dari Pemerintah Desa mengajak kepada kaula muda untuk bersama-sama melestarikan budaya tradisional, karena merupakan jatidiri kita sebagai orang sunda, jangan sampai kalah dengan kesenian dari luar,” tandasnya. (Dadi)

oleh