Angka Stunting Tahun 2020 di Sumedang Naik 3,28 Persen

oleh -

Radarsumedang.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumedang menyebut angka stunting di Kabupaten Sumedang per tahun 2020 mengalami peningkatan sebanyak 3,28 persen.

Itu berdasarkan hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) bulan Agustus 2020 di Sumedang yang menyatakan bahwa angka stunting di Sumedang ada di angka 12,05 persen, dibanding angka stunting pada tahun 2019 yang berada pada angka 8,77 persen.

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Nia Sukaeni, peningkatan angka stunting di Kabupaten Sumedang ini bermula saat awal-awal Pandemi Covid-19.

Salah satu penyebabnya akibat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beberapa waktu lalu.

“Pelaksanaan PSBB telah menghambat aktivitas ekonomi warga yang selanjutnya berdampak pada peningkatan angka stunting,” ucap Nia dalam ekspos stunting di Aula Dinas Kesehatan Kab. Sumedang, Senin (30/11).

Nia menyebutkan, secara proporsi besaran masalah gizi balita pada seluruh manifestasi di Kabupaten Sumedang berada di bawah ambang batas masalah menurut WHO.

“Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Bulan Penimbangan Balita (BPB) tahun 2019, terjadi peningkatan persentase kasus underweight, wasting, dan stunting,” ujarnya.

Disamping itu pula, berdasarkan batas masalah underweight lebih dari 10 persen, terdapat enam kecamatan yang termasuk rawan gizi.

Antara lain, Kecamatan Jatinangor, Cibugel, Jatigede, Ganeas, Jatigede, Ujungjaya, dan Surian. Sedangkan, berdasarkan batas masalah wasting lebih dari 5 persen, Kecamatan Jatinangor, Ujungjaya, Cisitu, Tomo, Cibugel, dan Surian memiliki jumlah kasus gizi kurang terlalu banyak.

“Adapun berdasarkan batas masalah stunting lebih dari 20 persen, Kecamatan Tanjungmedar dan Cibugel memiliki jumlah kasus balita stunting terlalu banyak,” terang Nia.

Atas dasar itu, Dinas Kesehatan lanjut Nia akan terus melakukan langkah-langkah upaya intervensi stunting pada tahun 2021.

“Kami akan melakukan sejumlah langkah mulai dari melakukan perluasan jangkauan implementasi strategi pelayanan gizi pada masa pandemi Covid-19 untuk mencegah unmet need layanan gizi terstandar,” tutur Nia.

Selain itu, kata Nia, upaya lainnya untuk mengintervensi kasus stunting di Sumedang yaitu dengan melakukan penguatan manajemen data untuk surveilans gizi melalui implementasi aplikasi e-PPGBM (Pencatatan dan pelaporan berbasis masyarakat dengan teknologi elektronik) di tingkat desa, puskesmas hingga Dinas Kesehatan.

“Pada tahun 2021 nanti juga kami akan meningkatkan konvergensi program-program intervensi stunting lintas sektor di tiap tingkatan pemerintahan, terutama di desa yang menjadi lokus prioritas juga membangun Posyandu Remaja di setiap desa. Di sana kita melakukan intervensi spesifik mulai dari hulu, dengan cara melakukan pemberian tablet tambah dara ke para remaja seminggu satu tablet,” imbuhnya seraya menyebut 48 Posyandu Remaja sudah terbentuk di Sumedang.  (Jim).