Super Hero di Sumedang Ikut Razia Warga Tak Pakai Masker

oleh -

RADARSUMEDANG.ID – Satgas penanganan Covid-19 Kabupaten Sumedang melakukan inovasi dalam melakukan operasi yustisi penegakan Penegakan Perbup 128/2020. Sejumlah anggota satgas yang terdiri dari unsur Satpol PP, Polri, TNI, dan Dishub ini menggunakan kostum pahlawan super, seperti Spiderman dan Superman.

Pantauan di lapangan, anggota satgas dengan kostum pahlawan super itu ikut merazia orang yang tidak menggunakan masker saat beraktivitas di kawasan Alun-alun Sumedang, Sabtu (9/1/2020). Mereka menggunakan masker sambil membawa tulisan yang berisi ajakan kepada masyarakat agar selalu menjalankan protokol kesehatan.

Kapolres Sumedang yang juga Wakil Ketua Satgas Penanganan Covid-19, AKBP Eko Prasetyo Robbyanto menuturkan, saat ini masyarakat sudah mulai bosan dengan pembatasan-pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah, sehingga menimbulkan kejenuhan di masyarakat. Hal tersebut menyebabkan masyarakat mengabaikan protokol kesehatan, sehingga berpotensi menimbulkan potensi penyebaran Covid-19.

“Untuk itu kami mencoba sebuah cara yang fresh, cara yang mudah diingat, agar bisa menjangkau orang dewasa hingga anak-anak, dimana kami menggunakan sosok super hero,” kata Eko, saat Operasi Yustisi di Alun-alun Sumedang, Sabtu (9/1/2020).

Ia mengakui selama ini pihaknya menampilkan petugas penegak hukum dari TNI dan Polri.
“Kali ini kami menampilkan sosok humanis agar masyarakat selalu ingat untuk menerapkan protokol kesehatan,” ucapnya.

Ia memprediksi pandemi Covid-19 masih akan berlangsung lama. Meski sudah akan dilakukan vaksinasi, namun menurutnya itu bukan jaminan. Sehingga penegakan protokol kesehatan adalah sesuatu yang sangat penting.

“Itulah pentingnya maskot super hero ini kami tampilkan di depan publik, itu agar anak-anak kelak ketika beranjak dewasa mengerti akan pentingnya protokol kesehatan,” katanya.

Dandim 0610/ Sumedang, Letkol. Inf. Zaenal Mustofa mengatakan, pemerintah harus melindungi masyarakat dari ancaman apapun, termasuk pandemi Covid-19.

“Langkah-langkah sudah kami laksanakan namun belum maksimal, kami coba lakukan yang persuasif namun represif,” tuturnya.

Persuasif, kata Zaenal, harus dilaksanakan dengan cara yang berbeda, humanis, yang bisa disampaikan kepada semua kalangan umur. Kemudian represif artinya harus dilakukan tindakan-tindakan sebagaimana mestinya, sesuai ketentuan.

Dengan metode yang persuasif dan represif ini diharapkan masyarakat akan tidak merasa tertekan, namun perlahan akan paham bahwa ini untuk kepentingan bersama.

“Insya Allah meskipun masyarakat bosan namun kami tidak akan bosan untuk mencapai Sumedang menuju Simpati,” kata Dandim. (agn)