Semua Doakan Almarhumah Ibunda Bupati Sumedang

oleh -

RADARSUMEDANG.ID – Ratusan orang berbondong-bondong mendoakan, mengantar dan bersama-sama menghadiri pemakaman almarhumah Ibu Hj. Ikah Mumsikah, Ibunda dari Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir.

Rombongan yang terdiri dari keluarga besar KH. Moh. Syatibi beserta keluarga besar KH. Ma’mun, pimpinan SKPD, unsur partai politik, pimpinan pondok pesantren, ulama, tokoh masyarakat, hingga masyarakat umum itu berdatangan ke tempat peristirahatan terakhir almarhumah di Pondok Pesantren Al Ma’mun, Blok Gunung Datar, Desa Gunturmekar, Kecamatan Tanjungkerta, Kamis (14/1).

Suasana duka yang mendalam pun menggema di Sumedang mulai saat adanya kabar bahwa ibunda Bupati Sumedang itu menghembuskan nafas terakhir di RS Santosa Bandung, kedatangan jenazah ke Gedung Negara, disholatkan di Masjid Agung Sumedang hingga ke tempat pemakaman.

Karangan bunga dari berbagai pihak kerabat dekat Bupati Sumedang pun berjejer di halaman Gedung Negara mulai dari instansi, partai politik, organisasi, hingga setingkat pejabat negara terpajang rapi.

“Mohon doa dan dibukakan pintu maaf untuk almarhumah. Dari lubuk hati yang dalam, saya sekeluarga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, atas doa dan rasa belasungkawa. Semoga dibalas sebagai pahala yang berlipat ganda,” ucap Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir saat melakukan sholat jenazah di Masjid Agung Sumedang, Kamis (14/1) pagi.

Selain Bupati sendiri, salah seorang pengurus PC Muslimat NU, juga menyampaikan duka mendalam bagi sosok almarhumah yang merupakan senior di jajaran muslimat NU.

“Tentunya sangat merasa kehilangan akan sosok ‘enin’. Beliau yang selalu membimbing saya bagaimana menjadi kader muslimat NU yang bisa bermanfaat bagi ummat. Intinya beliau tak tergantikan terutama sebagai Ketua PC Muslimat NU,” kata Hida Nurul Millah yang juga keponakan almarhumah.

Menurutnya, almarhumah adalah sosok yang luar biasa. Dengan melahirkan 10 anak, semua anaknya menjadi anak-anak yang sukses. Mulai dari kepala perpajakan di Bali, perawat, pengusaha, dokter, ahli hukum, anggota dewan, pemilik pesantren dan yang menjadi bupati sumedang saat ini.

“Beliau selalu mengutamakan dan mendidik semuanya dengan agama yang bagus. Tidak banyak bicara tapi tegas. Kemudian ketika diajak diskusi selalu enak dan nyambung,” katanya seraya menyebut serasa menjadi anak sendiri.

Kata-kata yang selalu terngiang di dalam sanubarinya adalah bagaimana seorang wanita panutan bagi orang lain itu memotivasi dirinya sebagai ‘single parent’ yang harus menjadi ibu dan ayah bagi sang anak.

“Beliau selalu menguatkan dan menasehati supaya saya selalu jaga diri. Karena sekarang saya jadi tulang punggung keluarga setelah sebelumnya saya di Garut. Sehingga sekarang saya sudah menetap di Sumedang dan lebih dekat dengan keluarga,” paparnya. (jim)