Video Warga Menggeruduk Aktifitas Galian C di Pamulihan Beredar Dimedsos

oleh -

RADARSUMEDANG.ID, PAMULIHAN – Sebuah video yang memperlihatkan bahwa masyarakat menggeruduk lokasi salah satu galian C di wilayah Dusun Cibuntu RT 10 RW 03 Desa Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, pada Minggu (21/3) lalu beredar luas di media sosial .

Namun warga sekitar sangat menyayangkan penggerudukan tersebut mengatasnamakan warga cibuntu. padahal menurut pengakuan ketua RW setempat penggerudukan tersebut dilakukan oleh warga diluar cibuntu.

“Kemarin ketika dihentikan, masarakat sekitar ataupun aparat Desa tidak ada yang berani datang karena mereka takut oleh pemiliknya,” kata salah seorang warga berinisial DR, kepada wartawan melalui sambungan teleponnya, Senin (22/3).

Menurutnya, hanya warga luar yang memiliki lahan disekitar galian itu, yang berani komplain bukan warga sekitar. Karena kegiatan galian tersebut berada tepat di samping lahan mereka, yang dampaknya menimbulkan tebing setinggi 8 sampai 9 meter.

“Sesungguhnya sikap warga sangat menolak dan keberatan dengan adanya aktivitas galian tersebut. Untuk Izin warga memang ada, hanya saja diduga warga yang memberikan izin itu terintimidasi,” ujarnya.

DR berharap pihak pemerintah ataupun instansi terkait dalam hal ini Satpo-PP Sumedang bersikap tegas, jika ada aktivitas galian yang belum memiliki izin dan sudah beraktivitas.

Ketua RW 03 Arip mengatakan, dalam aksi tersebut dilakukan oleh warga yang bukan asli penduduk Dusun Cibuntu. Melainkan warga diluar wilayahnya.

“Kemarin sempet banyak massa yang datang menghentikan aktivitas proyek dengan alasan dapat merugikan dan berdampak kepada keselamatan warga,” kata Arip kepada wartawan di kediamannya di Dusun Cibuntu. Senin (22/3).

Arip menyayangkan ketika warganya, dicatut dalam peristiwa penggrudukan aktivitas galian. Padahal kenyataannya warga RW 03 tidak keberatan.

“Yang kemarin ikut aksi, justru mereka bukan asli warga sini melainkan warga beda RW yang jauh dari lokasi galian, bisa di cek domisilinya, malah ada yang berdomisili di Bandung,” ucapnya.

Dengan adanya proyek tersebut, kata Arip, warganya menjadi terbantu dengan diberdayakan tenaganya dalam aktivitas galian.

“Banyak warga sini yang jadi dapat pemasukan karena diberdayakan, yang nganggur jadi ada kerja, sebanyak 12 orang jaga beko, 5 orang siang, malemnya 7 orang, buat jaga alat. Yang bagian gali tanah 4 orang, yang kerja di bangunan 4 orang, ditambah kemarin 2 orang. Kalau ini dihentikan ya berarti warga sini terpaksa gak ada kerja, gak ada pemasukan,” imbuhnya.

Salah seorang warga, Tito Saskia (26) mengakui bahwa dengan adanya proyek tersebut, dirinya yang saat ini menganggur karena dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja akibat dampak Covid-19 menjadi dapat pemasukan untuk keluarganya.

“Dulu kerja di Jatos bagian keamanan, cuma karena Covid jadi dirumahkan, sekarang ada proyek jadi lumayan ada dapet pemasukan,” ucap Tito saat diwawancarai di Dusun Cibuntu pada Senin (22/3).

Ia juga mengakui bahwa dengan adanya aktivitas galian tersebut, warga sekitar tidak ada yang merasa keberatan.

“Warga selama ini mah gak ada yg keberatan, paling kayak berisik proyek aja, normal,” tutupnya. (tha)