BPBD Sumedang Sarankan 23 Rumah di Desa Tanjungwangi Dikosongkan Akibat Pergerakan Tanah

oleh -

RADARSUMEDANG.ID, TANJUNGMEDAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang masih melakukan kajian guna mewaspadai adanya pergerakan tanah di Dusun Babakan Kopo, Rt. 05 Rw. 01, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Tanjungmedar.

Pasalnya pada hari Kamis (26/3) kemarin, beberapa pemukiman warga di wilayah tersebut sempat retak-retak akibat adanya pergerakan tanah pada jam 19.00 WIB.

Supervisor Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Sumedang, Rully Surya S mengatakan, berdasarkan hasil assesment di lokasi pergerakan tanah, pihaknya langsung menyarankan agar 23 rumah di Desa Tanjungwangi dikosongkan.

Dikatakan akibat pergerakan tanah itu, sebanyak 14 rumah mengalami rusak berat, 2 rumah rusak sedang, sedangkan 7 rumah lainnya masih terancam.

Kondisi pergerakan tanah kata Rully bervariasi, tembokan di beberapa rumah mengalami retakan, dan lantai rumah mengalami retakan yang tidak beraturan. Lebar retakan pun bervariasi dari mulai 5cm – 50 cm.

Selain itu, ada beberapa lahan garapan warga berupa sawah yang mengalami pergerakan tanah tersebut. Kurang lebih sekitar 200 bata lahan pesawahan terkena dampak dari kejadian tersebut.

“Demi keselamatan para pemilik rumah. Kami menyarankan rumah tersebut dikosongkan, mengingat kondisi rumah yang mengalami retakan sehingga sangat berbahaya jika ditempati,” kata Rully kepada wartawan, Sabtu (28/3).

Adapun kata Rully, bagi masyarakat terdampak dipastikan telah diungsikan ke tempat yang lebih aman.

“Berdasarkan pendataan, saat ini ada 15 KK yang mengungsi di Balai Desa Tanjungwangi, 6 KK tinggal di kerabatnya dan 2 KK di luar kota. Di balai Desa juga sudah dibuat Posko bencana,” ujarnya.

Kendati demikian disebutkan Rully, saat ini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM sedang melakukan kajian terkait pergerakan tanah.

“Kita masih menunggu hasil kajian yang dilakukan oleh PVMBG. Jadi kita belum tahu apakah warga yang tinggal disini harus direlokasi atau tidak,” sebut Rully.

Rully menambahkan, bantuan logistik bagi warga pengungsi saat ini sangat dibutuhkan.

“Kami sangat membutuhkan logistik bagi para pengungsi, mengingat banyaknya Bencana yang terjadi di Sumedang ini, membuat kami kewalahan, khususnya untuk logistik,” tuturnya.

Sementara pada hari Minggu (28/3) kemarin pergerakan tanah rupanya masih terus terjadi.

Menurutnya, saat ini lebar retakan antara 5 sampai 10 senti meter. “Sesuai hasil pengukuran manual, pergerakan tanah di lokasi ini diperkirakan mencapai satu milimeter per jam. Tapi itu baru pengukuran manual saja, ya,” ucap Rully.

Lebih lanjut sambung Rully, berdasarkan hasil asessment di lapangan, selain akibat tingginya intensitas hujan. Pergerakan tanah juga dipicu oleh adanya longsor pada lahan pesawahan di bawah pemukiman ini

“Kami bersama Pemerintah Desa Tanjungwangi, Unsur TNI/Polri setempat, Tagana , PMI, dan relawan lainnya, akan terus memonitor perkembangan bencana di lokasi ini,” tutup Rully. (jim)