Jika Pandemi Covid-19 Ini ‘Pagebluk’, Hati-Hati Musim Paceklik Mengintai

oleh -
Ketua LPBHNU Kota Salatiga Sofyan Mohammad (kedua dari kiri) saat berdiskusi dengan jajaran pengurus GP Ansor Kabupaten Semarang di Ponpes Baitul Qur'an Aswaja, Panjang Lor Ambarawa pada 28 Mei 2020 belum lama ini.

DI TENGAH situasi pandemi Covid 19 saat ini pemerintah mulai melonggarkan beberapa kebijakan tentang pembatasan aktifitas sosial dengan maksud adalah agar aktifitas ekonomi secara pelan pelan dapat menggeliat. Karena tantangan yang pasti dihadapi jika kondisi produktifitas ekonomi stagnan adalah paceklik atau kekurangan bahan pangan yang digambarkan sebagai situasi yang serba sulit.

Hal ini terungkap dalam diskusi antara Ketua LPBHNU Kota Salatiga Sofyan Mohammad dan pengurus GP Ansor Kabupaten Semarang di Ponpes Baitul Qur’an Aswaja, Panjang Lor Ambarawa pada 28 Mei 2020 belum lama ini. Menurut Sofyan dikhawatirkan menjadi ancaman lain yang nyata dapat terjadi mengiringi proses Pagebluk.

“Dalam literatur budaya Jawa maka kondisi yang sedang dialami oleh Dunia dan Indonesia pada tahun 2020 disebut dengan pagebluk yang merupakan istilah dalam tradisi Jawa untuk menggambarkan kondisi mewabahnya penyakit yang menular dan sangat berbahaya,” ungkap Sofyan.

Berkaca pada proses pagebluk pada masa masa sebelumnya, lanjut Sofyan, maka hal yang menyertai adalah paceklik demikian nampaknya dalam pagebluk Covid-19 juga akan diiringi dengan musim paceklik.

“Musim paceklik dalam khasanah budaya Jawa dapat dipahami sebagai kondisi yang serba sulit, tidak tersedia kebutuhan pokok, dan kegiatan perdagangan berhenti total. Selanjutnya jika pagebluk ini terus berlangsung dan ternyata apabila mitigasi yang berupa kebijakan penanganan pendemi ini tidak tuntas dan bernas maka paceklik menurut para ahli bakal benar-benar terjadi di bumi Nusantara ini,” paparnya.

Dalam kondisi paceklik akan menciptakan problem yang multi efek karena segala persoalan sosial sangat mungkin timbul secara bersamaan dan tak kurang berdampak pada situasi chaos dan hura hura dalam pentas panggung politik.

Lebih lanjut lagi, Sofyan menjelaskan jika situasi paceklik yang serba sulit terlebih menyangkut perut yang berarti eksistensi kehidupan maka bisa menjadi media kebenaran atau bahkan “pembenaran” bagi pihak-pihak tertentu untuk dijadikan dasar guna melakukan huru-hara atau ontran-ontran.

“Karena logikanya orang dalam keadaan lapar dan kesulitan ekonomi maka akan sangat mudah terbakar emosinya, terlebih jika hal tersebut diawali dengan proses provokasi dan agitasi,” tandas Sofyan.

Pasalnya, situasi paceklik sangat mungkin akan ditunggangi oleh para penumpang gelap untuk melakukan huru-hara dan ontran ontran bukan hanya pada bidang sosial dan ekonomi namun juga pada panggung politik.

“Dimana penumpang gelap tersebut akan memanfaatkan rasa lapar dan emosi masyarakat untuk bergerak menuntut jawab atas ketidak mampuan pemerintah di dalam mengatasi pagebluk sampai pada paceklik tersebut,” lanjutnya lagi.

Dalam diskusi itu pula dibahas bahwa ketersediaan kebutuhan pangan dan kesejahteraan masyarakat adalah tanggung jawab Pemerintah sesuai dengan amanat konstitusi UUD 1945 yang secara eksplisit memberi amanat kepada pemerintah untuk melindungi hak-hak warga negara.

“Oleh karena itu jika pemerintah melalaikan masalah ketersediaan bahan pokok pangan dan kesejahteraan masyarakat maka berarti pelanggaran terhadap konstitusi. Ketersedian bahan pokok pangan dan antisipasi paceklik adalah agenda yang menjadi suatu keharusan bagi pemerintah,” sarannya.

Pegebluk Covid -19 dan ancaman musim paceklik atau situasi serba sulit yang menyangkut kebutuhan pokok pangan menjadi salah satu ancaman serius yang tentu sangat menghantui masyarakat.

“Mengutip Global Hunger Index 2018, maka apabila tanpa pendemi saja Indonesia dinilai memiliki ancaman kelaparan yang cukup serius dan menuntut perhatian lebih, apalagi kondisi diperparah dengan situasi Pendemi maka ancaman paceklik adalah benar-benar momok yang sangat mengantui,” urainya lagi.

Sofyan menyarankan agar pagebluk Covid -19 benar-benar menuntut perhatian yang sangat serius dari pemerintah agar paceklik dapat dihindari yang sekurang-kurangnya bisa diantisipasi, karena ancaman itu seakan-akan sudah tidak jauh dari pelupuk mata.

“Sebagai bangsa maka tentu kita memiliki sejarah tentang pegebluk dan pacekik, dahulu ada pengalaman telah meremehkan datangnya pagebluk sehingga luput dalam metodologi mitigasinya, ketika menyadarinya maka pagebluk itu sudah jauh merasuk dan berbarengan dengan datangnya paceklik, lantas apakah kita sudah berguru kepada pengalaman, atau melupakannya?” pungkas Sofyan melemparkan pernyataan retoris. (*/rik)