Komunitas Vape Sumedang tegaskan Vape aman dikonsumsi

oleh -

Sumedang – Komunitas pengguna rokok elektronik (Vape) Sumedang tak bosan-bosan meyakinkan kepada masyarakat, bahwa vape aman dikonsumsi.

Cuitan itu bukan tanpa alasan, sebab berdasarkan eksperimen yang dilakukan kepada mantan perokok yang telah empat tahun menggunakan vape, saat dilakukan ronsen, sama sekali tidak menunjukkan kerusakan pada paru-paru manusia.

Menurut Wakil Ketua Vapers Sumedang, Rizky M Firdaus, saat ini permintaan vape Di tahun 2019 semakin hari semakin meningkat, terutama di kalangan anak muda.

Hal ini merupakan salah satu respon para perokok berat dalam menanggapi kebijakan pemerintah yang secara resmi telah menaikan harga cukai pada tembakau, sehingga menyebabkan harga rokok per bungkus naik 100 persen dari sebelumnya.

“Alhamdulilah mendekati akhir tahun 2019 ini, kami kebanjiran order untuk mini pod (jenis vape kecil yang mudah dibawa-bawa). Dalam satu hari, itu bisa terjual 4 – 6 mini pod, karena bentuknya lumayan kecil, mudah dibawa-bawa, dan sama seperti menghisap rokok,” kata Rizky saat ditemui Radar Sumedang di salah satu toko vape di kawasan Kota Sumedang, Jum’at (20/12).

Adapun kata dia, harga mini pod yang saat ini makin digemari oleh perokok aktif itu relatif terjangkau. Sehingga menjadi pilihan bagi yang ingin taubat dari rokok tembakau dengan budget menengah.

“Harganya murah kok mulai dari 260 ribu hingga 800 ribu, jadi enggak sampai jutaan kayak mod (Vape ukuran besar). Liquid-nya juga relatif murah enggak sampai jutaan. Akan tetapi kami sarankan Vape hanya dikonsumsi bagi umur 21 tahun keatas, dan dilarang keras bagi ibu hamil untuk mengkonsumsi,” ucapnya.

Kendati per tahun 2020 harga rokok baik sebesar 100 persen, dirinya memastikan bahwa harga liquid vape yang kini telah masuk cukai, belum dipastikan bakalan ikut naik.

“Memang per tahun 2020 BPOM akan masuk ke segmentasi Vape. Akan tetapi dari komunitas Vape di pusat itu belum ada keputusan resmi naik atau enggak, paling yang naik itu cukainya doang. Soalnya per milinya, menentukan besaran cukai yang harus dibayar,” katanya.

Kendati masih dibayang-bayangi oleh stigma negatif mengenai liquid-nya yang mengandung bahan kimia. Ia tak bosan-bosan menegaskan bahwa Vape aman bagi kesehatan.

Bahkan langkah sosialisasi kerap dilakukan oleh komunitas vape Sumedang kepada masyarakat di pusat keramaian.

Meski sempat mendapat penolakan dari sebagian masyarakat, namun perlahan sebagian masyarakat yang didominasi oleh para generasi milenial tetap berjuang mengkampanyekan subsitusi rokok tembakau ke elektronik.

“Tentunya kalau yang belum tau, pasti mengira cairanya disangka bahan kimia, enggak baik lah. Kalaupun ada yang sampai meninggal karena vape, itu karena ada penyakit bawaan sebelum dirinya mengkonsumsi Vape, jadi memang suka dikait-kaitkan. Tapi pas kita sosialisasikan dan kita terangkan bahaya roko seperti apa, responnya lumayan lah yang tadinya merokok beralih ke Vape,” tuturnya.

Sebagai informasi, di Sumedang khususnya di wilayah Kota, Vape pernah eksis di tahun 2016, dan berhasil memulihkan beberapa para pecandu rokok baik dikalangan anak muda maupun masyarakat umum. Alhasil, outlet Vape di Kota Sumedang pun bermunculan hingga belasan toko.

Namun gegara harga aksesoris dan liquid yang tidak ramah dikantong, perlahan vape mulai ditinggalkan. Hingga pada tahun 2019, kebutuhan penggunaan Vape kembali dibutuhkan. Mengingat, per tahun 2020 mendatang, Pemerintah Pusat resmi akan menaikan harga cukai tembakau, yang secara langsung akan berdampak pada kenaikan harga rokok per bungkus senilai 100 persen.

Rokok jenis ini dirancang untuk membantu pecandu rokok tembakau, yang ingin mencoba memulai berhenti merokok. Keunikannya, yaitu memiliki baterai dan cartridge yang dapat diisi ulang. (jim/net)

oleh