Manfaatkan Larva dan Pupa untuk Pakan Ikan dan Bebek.

oleh -

 

JATINANGOR – Upaya mensejahterakan peternak dan petani, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kampus Jatinangor mengembangkan pemanfaatan larva dan lalat tentara hitam (Hermetia illucens) untuk pakan ikan dan bebek di Kelompok Tani Sejahtera Bersama, Desa Cileunyi Wetan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung.

Penelitian tentang larva dan pupa dikembangkan oleh Ahim Ruswandi, Dr. M. Yusuf Abduh, Prof. Dr. Robert Manurung, Dr. Agus Dana Permana, Ujang Dinar H.,SP.,MP., dan Rizki Arifani,ST. yang merupakan Program Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi (P3MI)

Ketua kelompok P3MI Ahim Ruswandi mengatakan sampah merupakan kendala utama untuk mencapai lingkungan permukiman yang bersih dan sehat. Sekitar 60% sampah di pemukiman merupakan sampah organik. Saat ini sampah organik dianggap hanya menimbulkan suatu masalah dan tidak memiliki nilai ekonomis.

“Jika dikelola dengan baik sampah organik akan memberikan nilai tambah dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi baik dalam bentuk pupuk organik ataupun pupuk organik cair,” ucapnya kepada Radar Sumedang. Kamis (12/12).

Ahim menambahkan, salah satu model pengolahan sampah organik agar memiliki nilai ekonomis tinggi dapat dilakukan dengan bantuan lalat tentara hitam (Hermetia illucens). Lalat tentara hitam (Black Soldier Fly = BSF ), Hermetia illucens adalah serangga yang dapat mengolah limbah organik dimana larva lalat ini dapat mengkonversi sampah organik menjadi biomassa tubuhnya hingga menjadi pupa.

“Dari hasil penelitian, diketahui bahwa larva dan pupa BSF memiliki kandungan protein hingga 42% sehingga sangat baik untuk dijadikan pakan ternak dan ikan,” tambahnya.

Menurutnya, Ikan lele yang ditanam ukuran sangkal setelah diberi pakan larva dan Puva BSF pada usia 3 bulan dapat dipanen dengan ukuran 6-8 ekor per kilogramnya sedangkan bebek yang deberi pakan BSF dari 100 ekor dapat bertelur antara 80-90 ekor per hari ada peningkatan 20-30 % dari bebek yang hanya diberi pakan dengan ransum biasa karena dari 100 ekor hanya bertelur antara 60-30 ekor saja per hari.

“Selain larva/pupa yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, nilai tambah/manfaat lain yang didapat dari model ini adalah hasil penguraian dari larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) berupa pupuk organik padat dan lindi,” katanya.

Diharapkan, kata ia, para peternak dan petani dapat meningkatkan pendapatan dengan mengurangi beban biaya pembelian pakan komersil serta mengurangi beban biaya pupuk.

“Dengan menerapkan sistem pertanian terintegrasi model ini, petani akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena dapat menekan biaya produksi sebagai akibat tidak adanya limbah yang terbuang,” tutupnya. (tha).

oleh