Sudah 10 Tahun Posdaya Tampomas Inovasi Ramuan Obat Tradisional

oleh -
TRI BUDI SATRIA/RADAR SUMEDANG KELOR: Ketua Posdaya Tampomas Hijau, Amad memperlihatkan daun kelor yang masih segar dan yang sudah diblender menjadi serbuk serta alat pengisi kapsul manual yang bisa dicetak dalam jumlah banyak sekaligus

Cimalaka, Radarsumedang.id – Beragam manfaat mengkonsumsi daun kelor sudah tidak asing lagi kita dengar sebagai ramuan obat tradisional. Selain dikonsumsi dengan cara disayur atau lalap, daun kelor juga ada yang sengaja dikeringkan untuk dijadikan serbuk lalap kering (lapring).

Seperti produksi daun kelor lapring yang diolah dalam bentuk serbuk dimasukkan ke dalam kapsul, diproduksi Posdaya Tampomas Hijau di Desa Licin, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang kerjasama dengan Posyantek Sumedang.

Ketua Posdaya Tampomas Hijau, Amad menceritakan, sudah 10 tahun memproduksi daun kelor lapring dan menjualnya ke para konsumen dengan harga Rp 500 perbutir kapsul. “Selama ini saya belum menjual secara terang-terangan, apalagi ke orang belum kenal. Namun para konsumen yang sudah pada tahu mereka berlangganan rutin,” sebut Amad.

Pihaknya juga mulai bekerjasama mengelola produk tersebut dengan sebuah pesantren melalui program ‘One Pesantren One Produk’. “Daun kelor lapring dalam kapsul yang kita jual ini itung-itung untuk ongkos produksi dan operasional. Bukan niat komersil, namun untuk mensosialisasikan kesehatan dan obat dari daun kelor. Kalau ada yang mau bikin daun kelor lapring sendiri juga silakan, tidak ada niat saingan bisnis,” terangnya.

Amad mengisahkan, awalnya produksi berjalan sangat manual dengan alat seadanya. Sehingga untuk memasukkan serbuk daun kelor lapring menggunakan sendok ke dalam 1.000 butir kapsul hingga memakan waktu selama 24 jam, pengerjaan non stop oleh satu orang.

Kegigihan dan ketekunannya membuahkan hasil, pada 2014 mendapat bantuan dari UPI Bandung setelah kampus tersebut melakukan penelitian produksinya. Bantuan itu berupa alat pengisi kapsul manual yang bisa dicetak dalam jumlah banyak sekaligus, blender untuk membubukkan daun kelor, wadah pengepakan kapsul dan sejumlah peralatan lainnya.

“Semenjak bantuan dari UPI datang, saya sendiri bisa mencetak 1.000 butir kapsul hanya dua jam saja,” tandasnya. Dia mengaku, serbuk daun kelor lapring di dalam kapsul itu tanpa tambahan bahan lainnya. Sedangkan ruangan khusus dan alat-alat produksi harus tetap steril.

Dia menambahkan, juga pernah mendapat bantuan dari DPMD Provinsi Jabar berupa komputer dan alat tulis kantor untuk binaan tiga desa pada 2015 dalam program Posyantek. Pernah menerima kedatangan dari Fakultas Farmasi Unpad juga pada 2015 dan kerjasama dengan distributor kapsul serta pihak lainnya. (tri)