JATINANGOR – Tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari perayaan Idulfitri. Tidak heran jika menjelang akhir Ramadan, para pemudik mulai meramaikan jalanan lintas provinsi untuk kembali ke kampung halaman atau ke rumah orang tua/kerabat.
Menurut Ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dr. Heri Wibowo, M.M., aktivitas mudik secara umum dipicu proses migrasi penduduk dari desa ke kota dengan tujuan meraih harapan hidup yang lebih baik.
“Mudik dilakukan oleh mereka yang saat ini berpisah rumah/lokasi dengan orang tua ataupun tanah kelahirannya. Aktivitas ini membuktikan bahwa seseorang/penduduk perlu melakukan migrasi guna memenuhi kebutuhan atau hajat hidupnya,” kata Heri.
Jika dicermati secara dalam, kata Heri, mudik bukan sekadar kembali ke kampung halaman bertemu orang tua/keluarga/kerabat. Lebih dari itu, mudik merupakan momentum bertemunya hati serta perasaan.
“Ibu Pertiwi, memiliki tradisi unik yang telah mendarah daging, yaitu mudik atau pulang kampung. Tradisi ini seakan telah begitu melekat, sehingga apa pun rela dilakukan agar bisa mudik,” ujarnya.
Menurutnya. Tradisi tersebut begitu diperjuangkan oleh sejumlah penduduk. Meski teknologi saat ini telah memungkinkan antarindividu bahkan kelompok melakukan kontak virtual, tradisi mudik tidak dapat digantikan oleh pertemuan virtual apa pun.
“Tradisi mudik merupakan ‘madness of multiverse’, atau sebuah fakta sosial di mana seorang individu selalu punya keinginan kembali ke tanah kelahirannya. Selain itu, mudik menjadi cermin bahwa setinggi apa pun kesuksesan seseorang, ia tidak boleh lupa kepada tanah kelahiran dan keluarganya,” katanya.
Walaupun mudik tidak harus identik dengan ritual minta maaf, lanjut ia, seperti layaknya momentum Idulfitri pada umumnya, kehadiran secara fisik dinilai dapat meluruhkan serta menyatukan hati dan perasaan.
“Kehadiran dalam ruang fisik dan dimensi yang sama dapat menguraikan egoisme, mencairkan kalbu yang beku, serta menghimpun segenap perasaan yang takterucap. Bahasa nonverbal seperti ekspresi wajah, gestur, tatapan mata, hingga sentuhan fisik belum sepenuhnya tergantikan oleh teknologi,” ucap Heri.
Kendati demikian, lanjut ia, mudik menjadi sesuatu yang luar biasa, menjadi harga yang pantas untuk diperjuangkan secara luar biasa. Tidak heran jika aktivitas mudik kerap menghasilkan nilai-nilai dramatis, seperti harus bermacet-macetan, berdesak-desakan di angkutan umum, menyiapkan perbekalan, hingga tidak jarang untuk membeli tiket dengan harga yang lebih mahal dibandingkan hari biasa.
“Saya mendorong agar penyelenggara negara tetap memastikan agar aktivitas mudik dan arus balik terfasilitasi dengan baik. Ini kebinekaan yang indah. Fakta sosial kohesivitas komunitas yang perlu dijaga. Keluarga Indonesia, sebagai unit terkecil dari kekuatan bangsa, tentu adalah komponen penting bagi pembangunan,” pungkasnya. (tha).