Penguatan Literasi dalam Merdeka Belajar Melalui Pendekatan Pendidikan Aristotelian

oleh
Pj Bupati Yudia Ramli bersama Kadisdik Dr. Dian Sukmara, MPd (kiri) juga Sekretaris, Dr Eka Ganjar Kurniawan saat menerima Anugerah Merdeka Belajar bagi Pemerintah Daerah Tahun 2024, di Plenary Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Jumat (5/7) kemarin.

Oleh: Dr. Dian Sukmara, M.Pd.*

RADARSUMEDANG.ID — Permasalahan yang terjadi pada peerta didik kita adalah Fungtionaly ileterate yakni:  Dia bisa baca tetapi Kemampuan menangkap isi bacaan dan mengolahnya dengan bacaan lain menjadi visi pribadi, masih sangat rendah dengan kata lain kemampuan analitik dan sintetiknya rendah sekali.

Satu diantara alternatif yang strategis dalam merdeka belajar adalah Pendidikan menggunakan pendekeatan Aristotelian: Pendidikan Aristotelian didasarkan pada pandangan dan ajaran filsuf Yunani kuno, Aristoteles, yang memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk filsafat, etika, logika, dan pendidikan. Pendidikan Aristotelian menekankan beberapa prinsip inti yang meliputi tujuan pendidikan, metode pengajaran, dan pengembangan karakter. 

Beberapa aspek utama dari pendidikan Aristotelian:

  1. Tujuan Pendidikan
  • Pengembangan Kebajikan (Virtue Development): Pendidikan harus bertujuan untuk mengembangkan kebajikan moral dan intelektual. Menurut Aristoteles, kebahagiaan sejati (eudaimonia) dicapai melalui pengembangan kebajikan.
  • Keseimbangan dan Moderasi: Pendidikan harus mengajarkan keseimbangan dan moderasi dalam kehidupan. Aristoteles menekankan konsep “mesotes” atau jalan tengah, di mana kebajikan ditemukan di antara ekstrem-eksrem perilaku.
  1. Metode Pengajaran
  • Pembelajaran Aktif: Aristoteles percaya bahwa belajar adalah proses aktif yang melibatkan pengalaman dan partisipasi langsung. Pembelajaran melalui pengalaman langsung dan praktek sangat ditekankan.
  • Dialektika dan Dialog: Pengajaran melalui dialog dan diskusi adalah metode yang diutamakan. Guru dan murid berdialog untuk mengeksplorasi ide-ide, mengajukan pertanyaan kritis, dan mencapai pemahaman yang lebih mendalam.
  • Pengamatan dan Eksperimen: Aristoteles menganjurkan penggunaan pengamatan dan eksperimen dalam pembelajaran, terutama dalam ilmu alam. Dia menekankan pentingnya mengamati dunia sekitar dan melakukan penelitian empiris.
  1. Pengembangan Karakter
  • Etika dan Moralitas: Pendidikan harus menekankan pengembangan karakter yang baik dan etika. Aristoteles menekankan pentingnya tindakan moral yang konsisten untuk membentuk karakter yang baik.
  • Teladan Guru: Guru berperan sebagai teladan moral dan intelektual bagi siswa. Kepribadian dan perilaku guru seharusnya mencerminkan kebajikan yang diajarkan.
  • Pengembangan Keterampilan Sosial: Pendidikan harus mengajarkan keterampilan sosial dan kebiasaan yang baik untuk berinteraksi dalam masyarakat.
  1. Holistik dan Terpadu
  • Pengembangan Intelektual dan Fisik: Pendidikan harus mencakup pengembangan intelektual dan fisik. Aristoteles percaya bahwa tubuh yang sehat penting untuk pikiran yang sehat.
  • Pendekatan Interdisipliner: Pendidikan harus mencakup berbagai bidang ilmu pengetahuan dan seni, dari matematika dan sains hingga filsafat dan musik. Pendekatan yang luas ini membantu mengembangkan individu yang seimbang dan holistik.
  1. Relevansi Praktis
  • Penerapan Ilmu: Pengetahuan harus diterapkan untuk kebaikan masyarakat dan diri sendiri. Pendidikan harus memberikan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata dan pekerjaan.
  • Kewarganegaraan dan Tanggung Jawab Sosial: Pendidikan harus menyiapkan individu untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Ini melibatkan pemahaman tentang kewajiban sosial dan politik serta kontribusi kepada komunitas.
  1. Pendekatan Individual
  • Penghargaan Terhadap Perbedaan Individual: Pendidikan harus memperhatikan perbedaan individual di antara siswa. Aristoteles menyadari bahwa setiap individu memiliki bakat dan kemampuan yang unik.
  • Bimbingan dan Penyesuaian: Guru harus membimbing dan menyesuaikan pendekatan pengajaran mereka sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing siswa.
  1. Kritisisme dan Penyelidikan
  • Mengajarkan Berpikir Kritis: Pendidikan harus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Siswa didorong untuk mempertanyakan, menyelidiki, dan mengevaluasi informasi secara independen.
  • Menghargai Pengetahuan: Pendidikan harus menanamkan rasa hormat dan penghargaan terhadap pengetahuan dan pencarian kebenaran.

Pendidikan Aristotelian menekankan keseimbangan antara pengembangan intelektual, moral, dan fisik. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan individu yang berpengetahuan luas, bermoral tinggi, dan mampu berkontribusi positif kepada masyarakat. Filosofi pendidikan ini terus mempengaruhi praktik pendidikan modern dan pandangan tentang apa yang membuat pendidikan menjadi bermakna dan efektif.(*)

*)Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang

No More Posts Available.

No more pages to load.