Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Partisipasi Politik di Tanah Pasundan

oleh
Anggota DPRD Jabar H Ridwan Solichin (kiri) menghadiri acara budaya Ngaruwat Bumi di Desa Marengmang Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, baru-baru ini
Oleh: H Ridwan Solichin, SIP, MSi

RADARSUMEDANG.id — TANAH Pasundan yang merupakan wilayah Jawa Barat memiliki sejarah panjang dan kaya akan khasanah budaya yang mempengaruhi cara masyarakatnya berpartisipasi dalam kehidupan politik. Dalam konteks ini, partisipasi politik di Tanah Pasundan masih erat terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal yang mendalam, yang telah menjadi landasan kuat bagi masyarakat Sunda dalam menyalurkan aspirasi politik mereka. Hal ini tercermin dalam bagaimana sistem kewibawaan tradisional turut memengaruhi dinamika politik di wilayah ini.

Salah satu ciri khas masyarakat Jawa Barat adalah keberlanjutan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Partisipasi politik di Tanah Pasundan tidak dapat dipisahkan dari nuansa tradisional yang masih sangat relevan. Sistem kewibawaan tradisional, yang mencakup otoritas dan kehormatan, memegang peran penting dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap pemimpin dan tokoh politik.

Dalam menghadapi pilihan politik, masyarakat Sunda seringkali melibatkan tokoh-tokoh adat atau pemuka masyarakat sebagai penentu sikap politik mereka. Kepercayaan akan kearifan lokal ini mengakar kuat dalam budaya politik Jawa Barat, menciptakan suatu keseimbangan antara modernitas dan tradisi yang masih lestari hingga saat ini.

Salah satu contoh yang mencolok adalah pengaruh penguasaan bahasa Sunda. Dalam konteks politik lokal, kemampuan seorang pemimpin untuk berkomunikasi dengan masyarakat dalam bahasa ibu mereka dianggap sebagai nilai tambah yang signifikan. Hal ini mencerminkan kepedulian terhadap identitas budaya dan keberlanjutan tradisi lokal sebagai elemen utama dalam partisipasi politik.

Selain itu, perayaan adat dan tradisi-tradisi lokal sering kali menjadi ajang pertemuan politik informal yang mempersatukan masyarakat. Misalnya, “sedekah bumi” atau “ngaruwat bumi” atau upacara adat lainnya dapat menjadi momentum bagi tokoh-tokoh politik untuk memperkenalkan diri dan berdialog langsung dengan warga. Inilah salah satu cara di mana nilai-nilai kearifan lokal turut mengarahkan dinamika partisipasi politik di Tanah Pasundan.

Namun, dalam konteks modernisasi, tantangan pun muncul. Perubahan ekonomi dan sosial mengakibatkan pergeseran nilai dan prioritas dalam politik. Meskipun begitu, masyarakat Sunda tetap teguh mempertahankan akar tradisional dalam partisipasi politik mereka, menciptakan suatu harmoni antara kemajuan dan kelestarian budaya.

Penting untuk diingat bahwa partisipasi politik di Tanah Pasundan bukanlah sekadar mematuhi tradisi tanpa pemikiran kritis. Masyarakat Jawa Barat tetap mampu menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal dengan pemahaman modern mengenai isu-isu politik kontemporer. Dengan demikian, partisipasi politik di Tanah Pasundan bukan hanya sebagai suatu bentuk warisan kultural, tetapi juga sebagai fondasi yang dinamis untuk membangun masa depan politik yang lebih baik.(*)

*)Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS

No More Posts Available.

No more pages to load.